Selamat Datang Maskapai Penerbangan Asing di Indonesia

Kompas.com - 03/06/2019, 10:23 WIB
Suasana sudut ruang check in pesawat di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (24/5/2018). BIJB merupakan bandara kedua terbesar di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng yang memiliki luas lahan mencapai 1.800 hektar dan akan dioperasikan pada hari Kamis (24/5/2018).  ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASASuasana sudut ruang check in pesawat di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (24/5/2018). BIJB merupakan bandara kedua terbesar di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng yang memiliki luas lahan mencapai 1.800 hektar dan akan dioperasikan pada hari Kamis (24/5/2018).

Mulailah berdatangan pilot-pilot asing ke Indonesia yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Sejumlah bandara mulai over kapasitas dan kedodoran dalam melayani lonjakan penumpang akibat peningkatan slot penerbangan yang sangat cepat. Pertumbuhan penumpang kemudian dialihkan ke pangkalan-pangkalan militer.

Beberapa tahun lalu muncul keluhan bahwa kita kekurangan penerbang dan teknisi.  Tidak lama setelah itu justru muncul pula keluhan bahwa kita kelebihan pilot. Banyak yang menganggur.   

Berkembang pula banyak ide dari pemerintah daerah yang menginginkan daerahnya memiliki bandara internasional.

Apa yang sebenarnya terjadi ?   

Yang jelas terlihat adalah kita memang belum atau mungkin sekali tidak memiliki sebuah perencanaan jangka panjang (strategic master-plan) bagi sebuah pengembangan di bidang penerbangan nasional yang dijadikan pedoman atau acuan bersama.

Semua permasalahan yang muncul dalam dua dekade belakangan itu pada dunia penerbangan kita adalah sebuah refleksi dari penanganan dalam mengelola penerbangan nasional yang tidak ada  dasar referensinya serta tidak berada dalam sebuah manajemen yang terpadu dan juga tidak terlihat ada kontribusi para ahli dalam perumusan kebijakan ditingkat nasional . 

Sektor-sektor yang berjalan sendiri-sendiri dalam sebuah sistem yang besar memang akan terlihat sebagai biasa-biasa saja, namun dipastikan pada satu waktu akan sampai juga pada posisi yang saling bergesekan  bahkan berbenturan satu dengan lain.

Ada dua contoh yang mudah terlihat di sini. Pertama, kurang terkoordinasinya pengelolaan penerbangan sipil dengan pelaksanaan operasi penerbangan militer. Kedua, kurang tertatanya manajemen penerbangan sipil komersial itu sendiri. 

Banyak maskapai yang kemudian gulung tikar alias bangkrut. Realitasnya, sebagai sebuah negara besar dan luas serta berujud negara kepulauan, maka Indonesia akan sangat tergantung kepada kualitas jejaring angkutan atau perhubungan udara.   

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X