Indonesia Kembali Kawal TSS di Sidang IMO MSC ke-101 di Inggris

Kompas.com - 10/06/2019, 09:40 WIB
Petugas Dit Polair Polda NTB saat melakukan patroli laut.KOMPAS.com/ Karnia Septia Petugas Dit Polair Polda NTB saat melakukan patroli laut.

LONDON, KOMPAS.com - Indonesia kembali berjuang untuk mengawal proposal TSS Selat Sunda dan Selat Lombok agar dapat diadopsi pada Sidang IMO Maritime Safety Committee (MSC) ke-101 di London, Inggris setelah sebelumnya berhasil diadopsi pada sidang IMO NCSR.

"Setelah sebelumnya Indonesia berhasil mengawal proposal TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok pada sidang IMO NCSR, kini Indonesia harus kembali berjuang mengawal proposal tersebut agar diadopsi dalam sidang IMO MSC," kata Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. dalam siaran pers, Senin (10/6/2019).

Agus mengatakan, pengadopsian proposal TSS Selat Sunda dan Selat Lombok bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim di kedua selat tersebut. Apalagi, selat tersebut merupakan selat yang sibuk.

“Kedua selat tersebut termasuk ke dalam selat yang sibuk lalu lintas kapalnya, baik yang transit maupun yang menyebrang. Otomatis akan meningkatkan risiko keselamatan pelayaran, untuk itulah kita menetapkan TSS di kedua Selat tersebut,” jelas Dirjen Agus.

Agus berharap, penetapan TSS ini dapat meningkatkan keselamatan pelayaran. Sebab, TSS ini akan memisahkan arus lalu lintas kapal sehingga mengurangi kapal bertemu langsung maupun bertabrakan dengan merekomendasikan Precautionary Area (Area Pencegahan).

“Kita juga berharap TSS ini dapat berkontribusi pada keselamatan dan efisiensi navigasi serta perlindungan lingkungan laut di Selat Sunda dan Lombok,” harap Agus.

Sebelumnya, Indonesia juga berkomitmen untuk melakukan persiapan semua fasilitas, infrastruktur pendukung, dan Sumber Daya Manusia sebelum tanggal pelaksanaan implementasi TSS.

"Perlu persiapan yang baik mengingat tugas berat menanti setelah TSS tersebut berhasil diadopsi IMO. Sebab, bila berhasil diadopsi, TSS ini akan berlaku satu tahun setelahnya pengadopsian, yaitu bulan Juni 2020," pungkas Agus.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X