Imbas Perang Dagang, Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara Diprediksi Melambat

Kompas.com - 11/06/2019, 15:37 WIB
Ilustrasi perang dagang AS-China. SHUTTERSTOCKIlustrasi perang dagang AS-China.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan melambat menjadi 4,8 persen tahun ini.

Berdasarkan Economic Insight ICAEW terbaru bertajuk Laporan Asia Tenggara, angka pertumbuhan ekonomi tersebut lebih rendah dari 5,3 persen pada tahun 2018. Ini seiring perlambatan perdagangan global dan meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China.

“Kami berharap ekspor dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan terus meningkat walaupun berada di bawah tekanan ketegangan perdagangan AS dan China yang sepertinya akan terus berlanjut,” ujar ICAEW Economic Advisor & Oxford Economics Lead Asia Sian Fenner dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Selasa (11/6/2019).

 Baca juga: Peringkat RI Naik, BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Masih Kuat

Walaupun demikian, permintaan domestik dapat memberikan keringanan seiring bersama dengan kebijakan makro yang akomodatif, meskipun ada keragaman di perekonomian di setiap negara.

Pasa kuartal-I 2019 pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Asia Tenggara melambat menjadi 4,6 persen dari tahun ke tahun. Angka ini melambat dari 5,3 persen yang tercatat di kuartal I-2018.

Hal ini merupakan hasil dari menurunnya pertumbuhan ekspor di seluruh perekonomian Asia Tenggara sehubungan dengan melemahnya permintaan impor China, melambatnya siklus ICT global, dan meningkatnya proteksionisme selama setahun terakhir ini.

 Baca juga: Perang Dagang Bikin Modal Rp 208,1 Triliun Kabur dari Negara Berkembang

Total volume ekspor secara rata-rata 1 persen lebih rendah dibandingkan tahun lalu di kuartal I-2018, dengan adanya ketidakpastian atas permintaan eksternal yang juga cenderung membebani produksi perusahaan dan minat investasi di kuartal tahun tersebut.

"Dengan volume ekspor yang sudah berada di titik rendah sejak awal tahun, setiap bertambahnya ketegangan perdagangan dua ekonomi terbesar dunia tetap akan memperlambat pertumbuhan regional,” ujar Fenner.

Penurunan ekspor juga terjadi secara terus-menerus di seluruh wilayah Asia Tenggara pada kuartal kedua, dimana hanya Vietnam yang tidak mengikuti tren, walaupun pertumbuhan negara tersebut juga menurun sejak tahun lalu. Di tengah terjadinya ketegangan baru perdagangan AS-China, tren ini kemungkinan akan berlangsung hingga tahun depan.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X