Politisi Gerindra Tuduh Dampak Perang Dagang Hoaks, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Kompas.com - 12/06/2019, 06:28 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Wardjiyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Badan Anggaran DPR RI, Jakarta, Selasa (11/6/2019).KOMPAS.com/MUTIA FAUZIA Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Wardjiyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Badan Anggaran DPR RI, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (11/6/2019) yang juga dihadiri Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, anggota DPR dari fraksi Partai Gerindra Bambang H menyampaikan ketidaksetujuannya terkait dampak perang dagang terhadap perekonomian Indonesia yang cenderung tertahan tahun ini.

Menurut dia, pandangan Sri Mulyani dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengenai dampak perang dagang terhadap ekonomi Indonesia tidak berdasarkan fakta atau hoax.

"Jadi berarti China yang dikorbankan AS masih mempunyai suatu pasar yang bagus untuk Indonesia. Apa yang dikatakan Menkeu tidak benar. Sama dengan pemhohongan masyarakat, hoaks. Dan kami mohon diluruskan," ujar Bambang di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun menjelaskan, kondisi perang dagang antara China dengan Amerika Serikat saat ini nyatanya lebih merugikan Indonesia.

Ketika melakukan rapat kerja di Badan Anggaran (Banggar) DPR, dia mengatakan sepanjang tahun 2014 hingga kuartal II-2017, pertumbuhan ekspor Indonesia mengalami kontraksi. Sebab, Indonesia kala itu mengalami tekanan dari kondisi perekonomian global.

Hingga kemudian, di akhir 2017 hingga awal 2018, ekspor Indonesia mengalami perbaikan.

"Kalau kita lihat pertumbuhan ekspor kita mengalami kontraksi kalau tidak salah 2014 2015 2016 sampai 2017 kuartal II, dan mulai positif lagi di 2017 kuartal IV. Jadi memang waktu terjadinya 2014-2016 itu memang kita masuk di dalam suasana kondisi ekonomi global yg sangat menekan," jelas dia.

"Harga komoditas jatuh dan volume ekspor menurun, ini yg menyebabkan kontraksi waktu itu. Kita sudah mulai melihat recovery yaitu mulai akhir 2017 dan berlangsung di 2018 tiba-tiba di akhir 2018 Presiden Trump melakukan eskalasi (perang dagang), ini kemudian yg menyebabkan seluruh revisi proyeksi global," lanjut Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Dia mengatakan, seharusnya Indonesia mampu untuk menggunakan perang dagang untuk memerbaiki kondisi perekonomian dalam negeri seperti halnya negara kawasan Asia Tenggara lain, yaitu Vietnam.

Namun, allih-alih seperti Vietnam yang sebagian ekspornya adalah manufaktur sehingga bisa mencuri kesempatan mengambil alih ekspor China ke AS, mayoritas ekspor Indonesia yang berupa komoditas justru mengalami tekanan lantaran kondisi perekonomian China yang tengah mengalami moderasi.

"Poin kita hari ini adalah perekonomian kita ikut terbawa dengan global economic growth yang melemah dan itu disumbangkan karena dari China sedniri ekonominya juga mengalami tekanan apalagi mengalami moderasi dari pertumbuhan ekonominya. Maka permintaan barang-barang komoditas kita menjadi menurun dan itu yang menjelaskan mengapa ekspor kita mengalami kontraksi," ujar dia.




Close Ads X