Imbas Krisis 737 Max, Boeing Tak Dapat Order 2 Bulan Berturut-turut

Kompas.com - 12/06/2019, 15:57 WIB
Pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru serta populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.AFP PHOTO/GETTY IMAGES/STEPHEN BRASHEAR Pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru serta populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.

 

NEW YORK, KOMPAS.com - Pabrikan pesawat Boeing Co mengakui tak memperoleh pesanan komersial pada bulan Mei 2019 maupun bulan sebelumnya sejak Boeing mengalami insiden pada pesawat jenis 737 Max.

Dikutip dari CNN, Rabu (12/6/2019), Boeing hanya mengirimkan 30 jet komersial pada bulan Mei, termasuk 8 pesawat 737 Max versi lama. Hal ini berbeda dari Mei 2018 di mana Boeing mengirimkan 68 jet termasuk 19 Boeing 737 Max, dan 28 jet versi lama.

Insiden fatal Boeing 737 Max juga menghentikan operasi Boeing dalam pengiriman pesawat. Hal ini akhirnya berimbas pada pendapatan perusahaan.

Baca juga: 737 MAX Belum Bisa Terbang, Qatar Airways Tuntut Ganti Rugi ke Boeing

Penurunan pemesanan ini bukan hanya karena insiden 737 Max. Boeing juga memiliki besar sekitar 5.000 pesawat. Namun saat ini, banyak pelanggannya tidak perlu memesan jet tambahan.

Selain itu, pemesanan bulan Mei memang cenderung lambat dibanding bulan sebelumnya untuk tahun ini sebab pekan depan terdapat perhelatan Paris Air Show.

Paris Air Show, merupakan pameran dagang industri utama tempat Boeing dan saingannya, Airbus suka mengumumkan hasil pesanan.

Pada Mei 2018 sebelum perhelatan Paris Air Show tahun 2018, Boeing mendapat pesanan untuk 43 jet. 21 buahnya merupakan 737 Max.

Baca juga: Malaysia Airlines Pertimbangkan Kembali Pesanan Pesawat Boeing 737 Max

Di pertengahan Maret, 737 Max yang dimiliki Ethiopia Airlines mengalami kecelakaan fatal. Akibat kecelakaan itu, Boeing berusaha memenangkan persetujuan untuk perbaikan fitur keselamatan otomatis yang telah menjadi fokus penyelidikan kecelakaan.

Saat kejadian itu muncul ke permukaan, Boeing pun tetap merakit Boeing 737 Max meski lebih lambat.

Bulan Mei 2019, Boeing juga sempat membatalkan 71 pesanan 737 Max. Tapi pembatalan ini tak ada hubungannya dengan insiden tersebut, melainkan karena kendala di maskapai yang memesan.

Baca juga: CEO Boeing Minta Maaf kepada Keluarga Korban Kecelakaan 737 Max

Diketahui, 71 pesawat itu ditujukan untuk maskapai penerbangan India Jet Airways melalui berbagai perjanjian penjualan. Namun, Jet Airways menghentikan operasinya pada bulan April setelah gagal mendapatkan dana darurat dari bank.

"Karena status maskapai saat ini, kami telah membatalkan perjanjian kontrak untuk pesawat-pesawat itu," kata Boeing.




Close Ads X