BI Buka Ruang Turunkan Suku Bunga Acuan

Kompas.com - 17/06/2019, 20:07 WIB
Kepala BPS Suhariyanto, Menteri PPN/BAPPENAS Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur BI Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (13/6/2019). KOMPAS.com/MUTIA FAUZIAKepala BPS Suhariyanto, Menteri PPN/BAPPENAS Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur BI Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (13/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mengaku telah membuka ruang untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan terbukanya ruang penurunan suku bunga sejalan dengan kondisi inflasi yang relatif stabil pada awal tahun 2019.

"Jadi kalau mempertimbangkan inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang perlu didorong, memang kami sudah tahu bahwa ada ruang untuk menurunkan suku bunga," ujar dia ketika Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (17/6/2019).

Pekan ini, BI bakal melangsungkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk periode Juni 2019. Di dalam rapat tersebut, jajaran dewan gubernur bakal mengkaji kondisi terkini perekonomian baik dalam negeri serta global, serta kebijakan yang sesuai dengan kondisi tersebut.

Bulan lalu, RDG memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 perseb, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. 

Perry mengatakan, pihaknya terus mencermati kondisi pasar keuangan global serta angka neraca pembayaran nasional. Menurutnya, masih berlangsungnya ketidakpastian global tersebut membuat bank sentral menahan suku bunga pada bulan Mei lalu. 

"Kami masih mencermati kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran Indonesia dalam mempertimbangkan terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri," jelas dia. 



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X