Kompas.com - 19/06/2019, 07:08 WIB
Ilustrasi: Mendidik mendidik anak Tomwang112Ilustrasi: Mendidik mendidik anak

Studi lain dari 2016 menyebut, remaja usia 24-34 tahun yang melakukan pekerjaan sukarela, lebih kecil kemungkinan terjebak ke dalam perilaku ilegal maupun hukuman jeruji besi.

"Tapi berapa banyak dari kita yang memikirkan hal ini ketika mengasuh anak? Berapa banyak dari kita yang menemukan cara untuk berkontribusi dalam membangun kesuksesan dengan bergelut dalam organisasi?" tanya Esther.

"Sedih untuk dikatakan, saya perhatikan semakin banyak anak yang benar-benar fokus pada dirinya sendiri. Ke mana mereka ingin kuliah, ke mana mereka ingin liburan, dan barang apa yang ingin mereka beli. Mereka tidak merasa organisasi itu penting," ungkap Esther.

3. Uang Bukan Segalanya

Esther mengatakan, saat ini anak-anak tumbuh dengan perasaan seolah-olah mereka adalah pusat alam semesta.

Anak-anak kurang mandiri dan tidak siap untuk mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Remaja saat ini hanya fokus dengan uang, yang mereka anggap akan membuatnya bahagia.

"Gagasan seperti itu salah. Menjadi kaya, tak melakukan apapun, duduk santai di pantai, dan pergi makan malam mahal itu merupakan gagasan yang salah," kata Esther.

Dan tampaknya, kata Esther, orang-orang yang seperti itu masih ada di Silicon Valley. Orang-orang yang tidak memprioritaskan kebaikan komunitas, tidak berjuang untuk tujuan sosial, dan tidak mengejar kehidupan yang penuh makna dan tujuan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Akibatnya, mereka sering berakhir terisolasi dan tertekan. Saya telah bertemu banyak jutawan yang tidak bahagia dan bahkan beberapa miliarder yang tidak bahagia. Mungkin ini akibat tak diajarkan nilai dasar saat kecil," papar Esther.

4. Prioritaskan Tujuan dengan Benar

Esther mengatakan, remaja saat ini cenderung mudah depresi dan berakhir bunuh diri. Hal itu disinyalir akibat tak pernah mendapat informasi tentang bagaimana hidup dengan baik, bagaimana menjaga diri sendiri dan orang lain.

"Kami mengejar uang dan harta benda. Bukan layanan, bukan tujuan. Padahal, jika kita memiliki tujuan, itu akan membuat diri kita bahagia," kata Esther.

Lalu, bagaimana jika orang tua Anda memang tak peduli soal nilai dasar seperti kebaikan? Bagaimana jika Anda hanya diminta untuk memikirkan kesuksesan pribadi?

Hal utama yang harus Anda lakukan adalah memulainya dari hal yang kecil. Seperti menjadi Sukarelawan selama satu jam di sebuah organisasi maupun komunitas, pergi ke pertemuan dewan kota, maupun meneliti masalah lingkungan Anda. Paling tidak, Anda bisa memilih salah satu dari banyaknya pilihan.

"Ada masalah yang harus dipecahkan di manapun Anda berada. Terkadang, masalah itu hanya mampu dipecahkan dengan nilai-nilai kebaikan. Ketika itu menyangkut anak-anak kita, ajarilah nilai ini sedini mungkin," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
WORK SMART
Tim Virtual
Tim Virtual
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.