Mantan Bos Bank Bali Ungkit "Cacat" Akuisisi Bank Permata oleh Standard Chartered

Kompas.com - 19/06/2019, 17:48 WIB
Ilustrasi bank Thinkstockphotos.comIlustrasi bank

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Direktur Utama Bank Bali Rudy Ramli mengungkap adanya cacat dalam akuisisi Bank Permata oleh Standard Chartered Bank (SCB) pada 2014 lalu. Rudy mengungkit soal cacatnya akuisisi tersebut ke publik setelah beredar kabar SCB akan menjual saham Bank Permata.

Menurut dia, saham yang diperoleh secara cacat hukum tidak sah dijual kembali karena sejak awal sudah menyalahi aturan.

Diketahui, Bank Bali adalah salah satu dari lima bank yang digabungkan menjadi Bank Permata. Keempat bank lainnya adalah Bank Umum Nasional, Bank Artha Media, Bank Patriot, dan Bank Universal. Bank Bali menjadi leader dalam proses merger tersebut.

Rudy mengutip laporan tahunan SCB tahun 2006, di mana ditemukan kejanggalan kepemilikan atas Bank Permata.

Baca juga: Standard Chartered Bakal Divestasi 45 Persen Saham Bank Permata

Dalam laporan tertulis "There are no capital commitments related to the group's investment in Permata" yang artinya tidak ada komitmen kapital terkait investasi di Bank Permata.

"Artinya, SCB beli tanpa modal. Kok tidak ada komitmen? Yang dipakai modalnya siapa?" kata Rudy di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Padahal, kata Rudy, dalam setiap kerja sama berupa joint venture, pembelian saham, maupun perjanjian utang harus tetap ada komitmen modal. Ia curiga ada pemain di belakang SCB yang meminjam nama bank asal Inggris tersebut.

Jauh sebelum itu, Rudy menganggap Bank Bali telah dirampas dari tangannya secara paksa. Pada tahun 1999, Bank Bali ditetapkan sebagai bank take over dan berada dalam pengawasan BPPN.

"Bank Bali yang bank sehat, tadinya bagus, enggak ada apa-apa sama sekali, tiba-tiba di-take over," kata Rudy.

Baca juga: Standard Chartered akan Lepas Bank Permata, Ini Komentar Direksi

Tahun 1999, saat Bank Bali dinyatakan sebagai bank sakit, BPPN menetapkan Standard Chartered sebagai pengelola Bank Bali. Saat penandatanganan dilakukan, kata Rudy, ia diminta untuk menandatangani kertas putih tanpa ada tulisan apapun.

"Saya dipaksa teken di kertas putih. Tidak ada agreement. Saya sadar (kertas kosong) tapi kayak bingung seperti dalam pengaruh sesuatu," kata Rudy.

Oleh karena itu, Rudy kembali ingin memperjuangkan Bank Bali agar kembali ke tangannya. Dengan bukti-bukti tersebut, ia berharap calon investor yang hendak membeli saham Bank Permata berpikir ulang karena proses akuisisi yang tak seusia dengan ketentuan.

"Yang saya lakukan ini akan menyetop pembeli. Dengan apa yang saya lakukan. seharusnya tidak ada pembeli yang mau," jelas Rudy.

Sementara pihak Standard Chartered yang dihubungi Kompas.com, enggan berkomentar mengenai hal tersebut.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Berlaku Besok, Ini Tarif Baru Layanan Petikemas di Tanjung Priok

Berlaku Besok, Ini Tarif Baru Layanan Petikemas di Tanjung Priok

Whats New
Hypermart dan Giant Tebar Promo, Ada Diskon hingga 35 Persen

Hypermart dan Giant Tebar Promo, Ada Diskon hingga 35 Persen

Spend Smart
Bank Indonesia Siapkan Uang Tunai Rp 152,14 Triliun untuk Ramadhan dan Lebaran

Bank Indonesia Siapkan Uang Tunai Rp 152,14 Triliun untuk Ramadhan dan Lebaran

Whats New
Tak Terduga, Ekonomi Singapura Tumbuh 0,2 Persen di Kuartal I-2021

Tak Terduga, Ekonomi Singapura Tumbuh 0,2 Persen di Kuartal I-2021

Whats New
Hari Kedua Puasa, Berikut Harga Gula, Terigu, Bawang, dan Ayam Ras

Hari Kedua Puasa, Berikut Harga Gula, Terigu, Bawang, dan Ayam Ras

Whats New
Meningkatkan Daya Saing Bangsa Melalui Transformasi Teknologi 4.0

Meningkatkan Daya Saing Bangsa Melalui Transformasi Teknologi 4.0

BrandzView
BRI Pamit dari Aceh, Begini Hukum Transaksi Keuangan di Serambi Mekah

BRI Pamit dari Aceh, Begini Hukum Transaksi Keuangan di Serambi Mekah

Whats New
Fokus Berjualan Daring Selama Pandemi, Merek Sneakers Asal Klaten Tembus Pasar Global

Fokus Berjualan Daring Selama Pandemi, Merek Sneakers Asal Klaten Tembus Pasar Global

Earn Smart
Produsen Pocari Sweat Buka Banyak Lowongan untuk Fresh Gradute, Tertarik?

Produsen Pocari Sweat Buka Banyak Lowongan untuk Fresh Gradute, Tertarik?

Whats New
Syailendra Capital: Industri Reksa Dana Bisa Tumbuh 10 Persen Tahun Ini

Syailendra Capital: Industri Reksa Dana Bisa Tumbuh 10 Persen Tahun Ini

Whats New
Selain Grab, Traveloka Dikabarkan Juga Bakal IPO Via Perusahaan Cek Kosong?

Selain Grab, Traveloka Dikabarkan Juga Bakal IPO Via Perusahaan Cek Kosong?

Whats New
[TREN EDUKASI KOMPASIANA] Membantu Anak Mempersiapkan Kembali ke Sekolah | Mengapa Ujian Bahasa Indonesia Jarang Mendapat 100?

[TREN EDUKASI KOMPASIANA] Membantu Anak Mempersiapkan Kembali ke Sekolah | Mengapa Ujian Bahasa Indonesia Jarang Mendapat 100?

Rilis
Benci Produk Luar Negeri Dinilai Datangkan Investasi, Kok Bisa?

Benci Produk Luar Negeri Dinilai Datangkan Investasi, Kok Bisa?

Whats New
Mau Buka Franchise Tahu Go? Ini Modal dan Syaratnya

Mau Buka Franchise Tahu Go? Ini Modal dan Syaratnya

Smartpreneur
Ada Cuaca Ekstrem Akibat Bibit Sikon Tropis, Kemenhub Minta Pelaku Pelayaran Waspada

Ada Cuaca Ekstrem Akibat Bibit Sikon Tropis, Kemenhub Minta Pelaku Pelayaran Waspada

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X