Bos Krakatau Steel: Proses Restrukturisasi, Tentu Ada yang Tidak "Happy"

Kompas.com - 22/06/2019, 17:46 WIB
Direktur Utama PT Krakatau Steel, Silmy Karim di Jakarta, Minggu (24/3/2019). KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMADirektur Utama PT Krakatau Steel, Silmy Karim di Jakarta, Minggu (24/3/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim mengatakan, sedang berusaha melakukan transformasi dan restrukturisasi perusahaan sejak Januari 2019.

Ia menyadari, tidak semua orang akan senang dengan upaya yang sedang dilakukan oleh perusahaan. Namun ia memastikan, transformasi perlu dilakukan.

"Tentu dalam proses transformasi dan restrukturisasi ada yang tidak happy, tapi ini upaya agar KS bisa survive," ujarnya kepada Kompas.com, Jakarta, Sabtu (22/6/2019).

Baca juga: Ada Isu PHK Karyawan, Ini Penjelasan Dirut Krakatau Steel

Sejak ditunjuk sebagai nakhoda baru Krakatau Steel pada September 2018 lalu, Silmy menyadari pentingnya upaya penyelamatan perusahaan.

Sebab ungkap dia, sejak 10 tahun lalu ungkapnya, Krakatau Steel sudah menyimpan sejumlah persoalan. Akibatnya perusahaan pelat merah itu harus rugi 7 tahun berturut-turut.

Salah satu jalan restrukturisasi yang diambilnya yakni melakukan perampingan struktur. Sejumlah unit atau divisi rencananya akan digabungkan ke anak usaha Krakatau Steel.

Baca juga: Rugi 6 Tahun Berturut-turut, Krakatau Steel Gencar Restrukturisasi

Hal ini diyakini akan membuat kinerja perusahaan secara grup akan semakin optimal. Konsekuensinya, sejumlah karyawan akan dipindahkan.

Namun Krakatau Steel, kata Silmy, akan memberikan opsi lain kepada karyawan saat menawarkan pemindahan dalam proses restrukturisasi.

"Pasti ada yang saya reposisi, biasanya ada yang enggak mau, ya bisa mengundurkan diri atau program pilih pensiun dini. Simple sebenarnya," ujarnya.

Baca juga: Gandeng BUMN Karya, Krakatau Steel Incar Perusahaan Baja Lokal

Dalam beberapa hari terakhir, Krakatau Steel diterpa isu PHK ribuan karyawan. Sejumlah media menuliskan pemberitaan terkait hal itu.

Silmy enggan menyebut isu sebagai hoaks karena ia menilai pemutusan hubungan kerja bisa terjadi sebagai konsekuensi dari restrukturisasi yang dilakukan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X