Biaya Operasional Bus Listrik Lebih Mahal, tetapi...

Kompas.com - 24/06/2019, 09:10 WIB
(ki-ka) Pengamat Tatakota Yayat Supriatna, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio, Dirut Transjakarta Agung Wicaksono, Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Syafrudin, dan Moderator Brigitta Manohara saat diskusi media FUSE mengenai Kesiapan Bus Listrik Mengaspal di Jakarta, Minggu (23/6/2019). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA(ki-ka) Pengamat Tatakota Yayat Supriatna, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio, Dirut Transjakarta Agung Wicaksono, Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Syafrudin, dan Moderator Brigitta Manohara saat diskusi media FUSE mengenai Kesiapan Bus Listrik Mengaspal di Jakarta, Minggu (23/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com -  Biaya operasional bus listrik akan lebih mahal dibandingkan dengan bus konvensional. Namun,  Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) Agung Wicaksono, memastikan bahwa tarif bus listrik yang akan dioperasikan pihaknya akan terjangkau oleh masyarakat. 

Hal itu menurut dia, karena selama ini pihaknya tidak pernah menentukan tarif berdasarkan jenis bahan bakar.

"Selama ini tarif pelayanan Transjakarta dari pemerintah tidak didasari oleh bahan bakar, tarif kepada pelanggan itu semua sama.  Saat ini ada yang pakai solar, gas, itu sama tidak ada yang beda," kata Agung dalam diskusi media FUSE mengenai Kesiapan Bus Listrik Mengaspal di Jakarta, Minggu (23/6/2019).

Agung pun tidak memungkiri bahwa ongkos operasional bus listrik lebih mahal 2 hingga 3 kali dibandingkan bus konvensional. Oleh karena itu  perlu ada insentif fiskal dari pemerintah.

Baca juga: Ditanya Soal Kesiapan Bus Listrik, Ini Kata Dirut Transjakarta

Meski demikian Agung yakin biaya operasional bus listrik akan lebih murah bila sudah beroperasi. Apalagi, jika PLN memberikan tarif khusus untuk angkutan umum ini, biaya operasional akan lebih terjangkau.

"Dari segi biaya operasionalnya biaya bus listrik pasti lebih mahal. Tapi biaya operasional akan lebih murah apalagi kalau listriknya lebih murah dari pemerintah," ungkap Agung.

"Biaya operasional termasuk biaya maintanance perawatan, jumlah komponen bus listrik sangat sedikit dibawah 20, sekitar 17 komponen.  Sedangkan bus konvensional enggak sedikit, dari situ saja sudah kelihatan akan ada dampak signifikan dalam jangka panjang," terang Agung.

Selain itu, mahalnya biaya yang diperlukan untuk biaya operasional bus listrik pun tak seberapa jika dibanding dengan polusi dan lingkungan hidup sehat di Jakarta.

"Biaya bus ini untuk dioperasikan di Jakarta enggak seberapa kalau kita bandingkan dengan polusi dan hidup sehat di Jakarta yang sudah terancam. Impact pengoperasian bus ada dua, satu mengurangi kemacetan dan satu lagi mengurangi polusi," sebut Agung.



Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
komentar di artikel lainnya
Close Ads X