Menko Darmin Bingung Harga Ayam Bisa Anjlok

Kompas.com - 26/06/2019, 14:41 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution ketika ditemui usai rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (25/6/2019). MUTIA FAUZIAMenteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution ketika ditemui usai rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (25/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku bingung soal anjloknya harga ayam potong di beberapa daerah di Jawa.

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu menyatakan bakal mengecek apa penyebab harga ayam potong bisa anjlok.

“Saya juga bingung kenapa jadi jauh bedanya (harga ayam potong di) petani dengan di pasar, enggak tahu, saya harus cek dulu,” ujar Darmin di Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Baca juga: Diminta DPR Perhatikan Harga Ayam yang Anjlok, Ini Kata Menko Darmin

Darmin mengaku akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk mendalami apa penyebab anjloknya harga ayam tersebut.

Sebab, biasanya setelah Lebaran harga komoditas ayam biasanya akan kembali normal.

“Biasanya habis Lebaran (atau) bulan puasa (harga ayam) naik,” kata Darmin.

Baca juga: Jeritan Peternak Saat Harga Ayam Anjlok Rp 5.000 Per Kg: Pilih Bertahan atau Kosongkan Kandang

Sebelumnya, peternak ayam mengeluhkan rendahnya harga jual ayam ras yang tak sebanding dengan harga biaya produksinya.

Bahkan sebagai bentuk protes merosotnya harga ayam, Asosiasi Peternak Yogyakarta (Apayo) menginisiasi pemberiaan 5.000 ekor ayam ras gratis kepada masyarakat.

Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi mengatakan, rendahnya harga jual tersebut dirasakan oleh para peternak daerah lainnya.

Baca juga: Protes Harga Anjlok, Peternak di Jawa Tengah Akan Bagikan 10.000 Ayam Hidup Gratis

Rendahnya harga ini sudah terjadi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sebelum Lebaran dan di Jawa Barat sesudah lebaran.

"Saat ini rata-rata harga daging ayam ras di tingkat peternak berkisar Rp 10.000 per kilogram (kg), sementara harga biaya produksi sudah mencapai Rp 18.500 per kg," ucap dia seperti dikutip dari Kontan.co.id, Senin (24/6/2019).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X