Di KTT G20, Ini 5 Topik Ekonomi yang Dibahas Presiden Jokowi

Kompas.com - 30/06/2019, 11:01 WIB
Presiden Joko Widodo (depan, tiga kiri) melambaikan tangan saat berfoto bersama para pemimpin negara-negara peserta KTT G20 di Osaka Jepang, Jumat (28/06/2019). Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana mengikuti serangkaian acara KTT G20 dan pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin negara sahabat pada 28-29 Juni di Osaka. ANTARA FOTO/REUTERS/KIM KYUNG-HOPresiden Joko Widodo (depan, tiga kiri) melambaikan tangan saat berfoto bersama para pemimpin negara-negara peserta KTT G20 di Osaka Jepang, Jumat (28/06/2019). Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana mengikuti serangkaian acara KTT G20 dan pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin negara sahabat pada 28-29 Juni di Osaka.

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo hadir dalam pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi G20 ke Osaka, Jepang sejak Kamis (27/6/2019). Ia turut memboyong sejumlah menteri dalam pertemuan tersebut.

Kelompok negara-negara Grup 20 atau G20 dibentuk pertama kali pada pertemuan G7 di Berlin, Jerman pada 1999. Negara-negara tersebut di antaranya adalah Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Korea Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat, China, Afrika Selatan, dan anggota Uni Eropa.

Pertemuan G-20 perlu dilakukan secara aktif untuk menghindarkan dunia dari krisis global yang menjalar seperti yang terjadi tahun 1997-1998 dan 2007-2008.

Baca juga: Di Sela KTT G20, RI-Jepang Bahas Penyelesaian Perjanjian Perluasan Akses Pasar

Dalam lawatannya tersebut, Presiden dan para menteri mengangkat sejumlah isu global, salah satunya masalah ekonomi. Berikut beberapa hal yang dibahas Jokowi bersama pimpinan negara lain dalam forum KTT G20.

1. IDEA Hub

Presiden Jokowi, dalam pidatonya, mengusulkan perlunya Digital Media Accelerator Hub (IDEA Hub), yaitu platform untuk kurasi dan pengelolaan dari berbagi pengalaman mengenai model model bisnis digital dari para unicorn anggota G20.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

IDEA Hub terdiri dari tiga area, yakni Sharing Economies, Workforce Digitalization, dan financial inclusion.

Tiga hal ini dipilih karena diharapkan mampu mengurangi ketimpangan dalam berbagai hal. Dengan demikian, lompatan teknologi harus dirasakan manfaatnya oleh setiap orang sehingga tak ada yang tertinggal di belakang.

Baca juga: Sri Mulyani: Perang Dagang Lanjut, Ekonomi Dunia Hanya Capai 3,1 Persen

2. Dukung pembangunan di Arab Saudi

Presiden Jokowi juga melakukan pertemuan bilateral dengan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, di sela KTT G20. Jokowi menyampaikan beberapa hal terkait dukungan Indonesia kepada Arab Saudi, salah satunya soal keinginan Indonesia untuk berpartisipasi dalam revolusi ekonomi mencapai visi Saudi 2030. 

Indonesia memiliki dua BUMN, yaitu Wijaya Karya dan Waskita Karya yang berpengalaman di bidang konstruksi dan properti. Bahkan, keduanya memiliki kantor perwakilan di Arab Saudi.

“Saya sampaikan BUMN konstruksi Indonesia siap untuk mendukung pembangunan di sektor perumahan ataupun untuk konstruksi proyek-proyek NEOM,” ujar Jokowi.

Baca juga: Bertemu Putra Mahkota, Jokowi Pastikan BUMN Dukung Konstruksi di Arab Saudi

Selain itu, Jokowi juga menyampaikan minat Indonesia untuk terlibat dalam proyek sektor perkeretaapian Arab Saudi. Untuk itu, Presiden ingin agar tim dari kedua pihak bisa bertemu untuk membahas hal ini secara khusus. 

Isu lainnya yang diangkat Presiden Jokowi adalah kerja sama antara Pertamina dengan Aramco. Terkait hal ini, menteri luar negeri kedua negara telah membahasnya di Jeddah dan sepakat untuk mendorong pertemuan tingkat menteri kedua negara.

Pembahasan kerja sama diharapkan selesai pada bulan Oktober, sehingga kerjasama dapat segera dilakukan.

3. Perluas bisnis dengan India

Kerja sama ekonomi dan maritim, menjadi pokok-pokok pembicaraan saat Presiden Jokoki bertemu Perdana Menteri India, Narendra Modi. Jokowi mengajak India untuk terus mendorong pencapaian target perdagangan sebesar 50 miliar dollar AS di tahun 2025.

Oleh karena itu, ia menyampaikan pentingnya kedua negara untuk menghilangkan hambatan, baik tarif maupun nontarif.

Presiden secara khusus meminta PM Modi menaruh perhatian terhadap penerapan tarif impor baru terhadap ekspor kelapa sawit Indonesia pada awal Januari 2019.

“Kita perlu mendorong Menteri Perdagangan kita untuk terus lanjutkan pembahasan guna mencapai win-win solution, termasuk proposal trade-off minyak sawit dengan komoditas lainnya,” kata Jokowi.

 Baca juga: Serukan Perang Dagang dengan AS, India Bisa Rugi Sendiri?

Di bidang maritim, Presiden Jokowi memandang perlunya untuk memperluas interaksi bisnis dalam kerja sama maritim kedua negara. Hal ini dapat dimulai dari peningkatan interaksi antara pengusaha Aceh dan Andaman-Nicobar.

Untuk itu, Presiden Jokowi mengajak India untuk berpartisipasi dalam pengembangan infrastruktur konektivitas di Sabang.

PM Modi pun menyambut baik kerja sama perdagangan dan investasi yang sudah mulai berlangsung antara Andaman/Nicobar dengan Aceh. Menurut Modi, kerja sama ini adalah kerjasama praktis yang menguntungkan kedua pihak.

4. Kerja sama industri strategis dan investasi dengan Korea Selatan

Jokowi juga melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Dalam pertemuan itu, kedua kepala negara membahas tindak lanjut kunjungan Presiden RI ke Seoul pada bulan September tahun lalu.

Pembahasan seputar masalah kerja sama dalam konteks industri strategis, kemudian investasi-investasi Korea Selatan yang ada di Indonesia antara lain di bidang entertainment, di bidang garment dan sebagainya.

Selain itu, mereka juga membahas kesepakatan untuk segera menyelesaikan perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IKCEPA dan komitmen kedua kepala negara untuk menyelesaikan perundingan aset pada akhir tahun ini.

5. Defisit dagang dengan China

Dalam pertemuannya dengan Presiden Republik Rakyat China Xi Jinping, Presiden Jokowi membahas upaya untuk mengurangi defisit perdagangan antara Indonesia dengan China. Keduanya juga membahas impor China terhadap CPO Indonesia tahun lalu, yang sudah melampaui angka 1 juta ton.

Artinya, sudah lebih dari angka yang dijanjikan oleh Presiden Xi sebelumnya.

Xi pun berharap Indonesia kembali mengikuti Expo Export Import yang ada di Shanghai. Ia memastikan China akan memberikan perhatian yang khusus kepada Indonesia.

Baca juga: Fasilitasi Ekspor dan Impor, RI Sepakati Pertukaran Data dengan China



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.