Bisnis Ritel Ketat, ITC Permata Hijau Mulai Lesu

Kompas.com - 01/07/2019, 08:38 WIB
Salah satu sudut tempat parkir ITC Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (2/9/2015). Kompas.com/Unoviana KartikaSalah satu sudut tempat parkir ITC Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (2/9/2015).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketatnya persaingan bisnis retail, membuat beberapa bisnis retail hypermarket ditelan zaman. Grand ITC Permata Hijau salah satunya, pusat perbelanjaan bergaya mediterania yang sempat menjadi titik area komersial pada awal 2000-an, kini mulai lesu.

ITC Permata Hijau, bahkan terlihat masih yang sangat lengang pada Minggu pukul 12:00 WIB.

Di lantai satu, beberapa pekerja toko baju dan aksesoris masih terlihat bersiap membuka gerainya. Bahkan setiap empat toko yang menjajakan barang, terdapat dua sampai empat kios yang kosong berjejer.

Sementara pengunjung banyak mengarah ke area foodcourt di lantai 5 yang diisi oleh KFC, AW, hingga Pizza Hut. Pusat perbelanjaan 5 lantai dan satu area perkantoran di lantai 6 ini, bahkan sepi pengunjung dan kios di lantai 2A dan 3.

Baca juga: Setelah Tanah Abang, Dirjen Pajak Sosialisasi Tax Amnesty di ITC Mangga Dua

"Toko di seberang tadinya adalah toko baju. Dia baru saja tutup akhir bulan ini, entah pindah atau mau disewakan ke orang lain," jelas Mae (22) yang sudah 2 tahun menjual pakaian perempuan di lantai 4 ITC Permata Hijau.

Pihaknya mengakui bahwa sejak akhir 2018 jumlah pengunjung yang berbelanja makin surut. Memasuki akhir semester I 2019, bahkan pendapatan tokonya yang berukuran 3×3 meter persegi hanya bisa berkisar Rp 200.000 -Rp 300.000 per hari.

"Biasanya kami bisa mencapai penjualan lebih dari sejuta per hari pada 2017. Bila dibandingkan tahun ini, 2017 jauh lebih ramai dari sisi pengunjung dan pembelian. Tapi sejak awal 2019, entah kenapa sepi, dapat Rp 200.000 sudah untung," ucap Mae, Minggu (30/6/2019).

Menurut dia, pihaknya menyewa kios sebesar Rp 27 juta per tahun. Namun dia tidak membuka berapa persen kenaikan biaya sewa sejak berjualan tahun 2017.

"Kalau ada kenaikan biaya sewa, itu pasti. Tapi tak bisa sebutkan persisnya," sebut Mae.

Mae berpendapat kini banyak pelanggan lebih ingin mencari barang secara online atau dekat dengan tempat tinggalnya, sehingga tidak perlu mendatangi pusat perbelanjaan. "Sayangnya kami juga tidak membuka lapak online, hanya ini saja," ujarnya.

Baca juga: Darmin: Industri Ritel Enggak akan Sekaligus Rontok

Sementara itu Kati (50), penjaga kios Bag's Station di lantai 5, berkata dalam beberapa hari tokonya bisa tidak menjual satu item sama sekali.

"Tas juga bukan kebutuhan sehari-hari, jadi tidak selalu dicari. Tetapi selain itu, kondisi pengunjung di sini tidak banyak, padahal akhir pekan. Tidak berbeda jauh dengan hari kerja seperti biasa," kata Kati yang sudah berjaga selama setahun di Grand ITC Permata Hijau.

Sejak awal 2019, penjualan terbanyak yang didapat tokonya berjumlah tiga item atau setara Rp 1juta. "Tapi itu sangat jarang. Pernah beberapa hari tidak ada pembelian sama sekali," imbuh Kati.

Kati berkata keadaan ekonomi menjadi alasan orang tidak banyak melakukan pembelian.

"Selain itu, memang kawasan ini sepi. Sekalipun ramai, itu ada di bagian makanan di lantai 5 atau Carrefour di lantai dasar," ujarnya.

Lebih lanjut, kenaikan sewa sekitar 5 persen  sempat dikeluhkan karena menambah biaya sewa. Atasannya harus merogoh kocek Rp 31 juta per tahun untuk menyewa kios berukuran 12 meter persegi tersebut.

Namun begitu Kati menyebutkan, cabang toko Bag's Station di ITC Kuningan dan ITC Depok, dilaporkan mengalami penjualan lebih baik dibandingkan di ITC Permata Hijau.

Nia (32), penjaga toko Optik Melawai di lantai yang sama mengeluarkan pendapat senada. Dia berpendapat pihak Grand ITC Permata Hijau kurang menyelenggarakan banyak acara atau event untuk menggaet pengunjung.

"Seminggu jelang hari raya Idul Fitri lalu, pengunjung sempat naik banyak. Tetapi setelahnya surut lagi. Pihak pengelola kurang ada event menarik jadi tidak bisa terus membuat pengunjung datang. Sangat disayangkan karena sebenarnya pembeli Optik Melawai cukup loyal dan selalu ada," katanya.

Baca juga: 6 Gerai Giant di Jakarta, Depok, dan Bekasi Tutup, Ini 5 Faktanya

Nia melanjutkan, beberapa gerai satu persatu di lantai 5 tutup. Bahkan dirinya berestimasi hanya 40 persen tingkat okupansi toko di lantai 5 saat ini. Sementara soal penjualan, pihaknya dalam sehari mengantongi pendapatan minimal Rp 1j uta dan maksimal Rp 3 juta per hari.

"Per tahun biaya sewa ada di kisaran Rp 34 juta-40 juta. Kalau dibandingkan dengan pemasukan sehari-hari, biaya tersebut sangat mencekik. Hanya toko yang punya cabang saja yang dapat bertahan dengan kondisi ini," ujarnya.

Nia melanjutkan, kios Optik Melawai tersebar di hampir semua pusat perbelanjaan utama di Jabodetabek. Sehingga sepinya penjualan di ITC Permata Hijau diperkirakan masih bisa ditopang dari penjualan di cabang lain, terutama ITC Kuningan dan Mall Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan, yang memiliki tingkat kunjungan dan pembelian tinggi.

"Optik Melawai juga bisa dijangkau secara online. Kami punya website dan sosial media. Itu membantu penjualan juga atau sekedar memberi informasi pada calon pembeli," tambahnya.(Amalia Fitri)

Baca update:  Soal ITC Sepi, Ini Kata Pengelola

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Melongok ITC Permata Hijau yang kini sepi

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X