Buwas Sebut Regulasi hingga Kartel Sebabkan Kinerja Bulog Tak Optimal

Kompas.com - 02/07/2019, 16:00 WIB
Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (Perum Bulog) Budi Waseso di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) Jakarta, Selasa (22/1/2019). Kompas.com/Mutia FauziaDirektur Utama Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (Perum Bulog) Budi Waseso di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) Jakarta, Selasa (22/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Perum Badan Urusan Logistik ( Bulog) kerap dianggap tak mumpuni dalam menstabilkan harga dan kualitas Sembilan Bahan Pokok (sembako).

Menanggapi hal itu, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan ketidakoptimalan kinerja Bulog disebabkan oleh berbagai kendala, mulai dari kurangnya sinergi antara Bulog dengan kementerian, regulasi yang belum jelas, hingga ulah kartel yang memanfaatkan pasar.

"Kenapa ini bisa terjadi? Memang kita harus akui belum adanya sinergi dalam semua hal, terutama masalah pangan ini," kata Budi, yang akrab disapa Buwas, di Jakarta, Selasa (2/7/2019).

Baca juga: Buwas Rela Hengkang Kalau Mensos Serap 100 Persen Program Bansos

Kurangnya sinergi antar lembaga pemerintahan itu terlihat ketika panen mengalami keberhasilan namun tak mampu terserap baik oleh Perum Bulog karena keterbatasan dana. Sebab, selama ini Bulog menyerap bahan pangan dengan dana pinjaman sekaligus bunga komersial, bukan menggunakan APBN.

"Ancama kedua adalah kualitas pangan. Ini tidak bisa dihindari. Yang namanya pangan pasti ada penurunan kualitas yang berkaitan dengan harga. Kalau makin turun kualitasnya, pasti harga rendah. Sementara semakin lama juga bunga kita makin tinggi. Nah ini menjadi dilema," papar Buwas.

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini juga menyebut kendala regulasi yang belum pasti berkontribusi membuat kinerja Bulog tidak optimal. Pun kewenangan perihal komoditas yang seluruhnya tak dikendalikan Bulog.

Baca juga: Buwas: Bulog Lepas 50.000 Ton Beras Supaya Tak Busuk di Gudang

" Regulasi saat ini kita belum punya kepastian. Bulog punya tugasnya pasti, tapi pemahaman tugas Bulog secara keseluruhan untuk masyarakat belum ada. Karena masih ada kewenangan yang dipegang oleh kementerian dan lembaga sehingga ada tarik ulur di sini," kata Buwas.

Ulah jejaring kartel yang menguasai pasar dalam negeri dan memainkan harga sejumlah komoditas beberapa waktu belakangan pun menyebabkan kinerja Bulog tak optimal dalam menjaga stabilisasi bahan pangan. Padahal, Bulog yang seharusnya menjadi badan pemerintah dalam menstabilkan bahan pangan tanpa ada kepentingan mencari untung.

Untuk menghindari hal itu terjadi lagi, dia meminta segala program pemerintah terkait masalah pangan seluruhnya diserahkan kepada Bulog.

"Kalau program pemerintah soal masalah pangan 100 persen diserahkan kepada Bulog, saya yakin tidak ada kartel. Mati semua. Ya, seperti itu memang kondisinya," pungkasnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Manfaatkan Ceker Ayam Jadi Sepatu, Bisnis Ini Bisa Bertahan di Tengah Pandemi

Manfaatkan Ceker Ayam Jadi Sepatu, Bisnis Ini Bisa Bertahan di Tengah Pandemi

Whats New
Curhatan Sri Mulyani, Sulitnya Membuat Kebijakan Ditengah Pandemi

Curhatan Sri Mulyani, Sulitnya Membuat Kebijakan Ditengah Pandemi

Whats New
Menteri Edhy Bantah Terlibat Tentukan Eksportir Benih Lobster

Menteri Edhy Bantah Terlibat Tentukan Eksportir Benih Lobster

Whats New
Presiden Marah soal Anggaran Kesehatan, Datanya Benarkah?

Presiden Marah soal Anggaran Kesehatan, Datanya Benarkah?

Whats New
Tesla Jadi Perusahaan Otomotif Paling Bernilai di Dunia, Kekayaan Elon Musk Naik 21 Miliar Dollar AS

Tesla Jadi Perusahaan Otomotif Paling Bernilai di Dunia, Kekayaan Elon Musk Naik 21 Miliar Dollar AS

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Membedah Pajak Netflix | Cerita Pekerja Proyek | 'Body Shaming' di Sekitar Kita

[POPULER DI KOMPASIANA] Membedah Pajak Netflix | Cerita Pekerja Proyek | "Body Shaming" di Sekitar Kita

Rilis
Sinar Mas Beri Edukasi Lingkungan kepada Masyarakat melalui Festival Hijau BSD City ke-17

Sinar Mas Beri Edukasi Lingkungan kepada Masyarakat melalui Festival Hijau BSD City ke-17

Rilis
Menko Airlangga Optimistis Pemulihan Ekonomi Makin Cepat pada Kuartal III-2020

Menko Airlangga Optimistis Pemulihan Ekonomi Makin Cepat pada Kuartal III-2020

Whats New
Mengenal Eigendom, Bukti Kepemikan Tanah Warisan Belanda

Mengenal Eigendom, Bukti Kepemikan Tanah Warisan Belanda

Whats New
OJK Disarankan Jadi Pengawas Pasar Modal dan Industri Keuangan Non-bank Saja

OJK Disarankan Jadi Pengawas Pasar Modal dan Industri Keuangan Non-bank Saja

Whats New
Tips Karier Sukses, Begini Cara Dekat dengan Atasan Tanpa Menjilat

Tips Karier Sukses, Begini Cara Dekat dengan Atasan Tanpa Menjilat

Work Smart
Kementan Alokasikan 15.320 Ton Pupuk Subsidi untuk Bulukumba

Kementan Alokasikan 15.320 Ton Pupuk Subsidi untuk Bulukumba

Rilis
Negara-Negara Ini Jalankan Sistem Pengawasan Bank di Bawah Bank Sentral

Negara-Negara Ini Jalankan Sistem Pengawasan Bank di Bawah Bank Sentral

Whats New
Persaingan Antar-bank BUMN yang Jadi Sorotan Erick Thohir

Persaingan Antar-bank BUMN yang Jadi Sorotan Erick Thohir

Whats New
Dihantam Pandemi, Maskapai Air France Pangkas 7.500 Karyawan

Dihantam Pandemi, Maskapai Air France Pangkas 7.500 Karyawan

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X