Tren Belanja Fashion di ITC Bergeser ke "Food and Beverage"

Kompas.com - 04/07/2019, 22:39 WIB
Suasana ITC Kuningan Jakarta, Kamis (4/7/2019). DOKUMENTASI SINARMAS LANDSuasana ITC Kuningan Jakarta, Kamis (4/7/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - International Trade Center ( ITC) mungkin menjadi tujuan utama masyarakat yang ingin berbelanja baju, terutama jelang hari raya keagamaan seperti Natal dan Lebaran. Tak heran tenant-tenant fashion bertebaran di hampir seluruh pelosok ITC.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren kebutuhan belanja pakaian ini bergeser. Justru, yang belakangan mendominasi aktivitas bisnis di ITC yakni tenant makanan dan minuman (food and beverage).

"Kami sudah memprediksi bahwa tren belanja orang akan lebih banyak lifestyle. Orang kini mengurangi goods, tapi memperbanyak experience. Salah satunya food and beverage," ujar Kepala Divisi ITC Christine Natasha Tanjungan kepada Kompas.com, Kamis (4/7/2019).

Baca juga: Soal ITC Sepi, Ini Kata Pengelola

Melihat potensi yang besar untuk bisnis mamin, sejak dua tahun lalu ITC merenovasi area foodcourt lebih luas dan nyaman bagi pengunjung. Tak hanya di satu ITC, tapi seluruh ITC yang dikelola sekitar 10 unit.

Pihak yang mengajukan permintaan sebagai tenant saat ini juga kebanyakan dari sektor mamin. Bahkan, yang segmennya di atas level ITC seperti Sour Sally, Gokana Group, hingga kudapan asal Korea.

Christine mengatakan, seiring berkembangnya waktu, ada beberapa tenant yang mulanya menjual produk fashion yang beralih mencicipi bisnis makanan. Khususnya jenis restoran Grab and Go yang melayani pesanan untuk dibawa pulang seperti lewat jasa ojek online.

Di ITC Mangga Dua, kata Christine, ada toko yang sebelumnya menjual pakaian bayi berubah menjadi kafe. Barista kafe tersebut merupakan anak kandung dari pemilik toko.

Baca juga: Kejayaan ITC Mangga Dua Mulai Surut, Pembeli Pun Bisa Berlari-lari...

Christine menganggap, pemilik toko nampaknya mampu menangkap peluang di tengah tingginya minat masyarakat terhadap kafe-kafe baru. Ternyata, kafe tersebut laris manis.

"Banyak Go-Jek dan Grab yang antre karena di sekitar ITC kan pusat bisnis, jadi banyak orang kantoran yang pesan," kata Christine.

Hal yang sama terjadi di ITC Kuningan, di mana pedagang yang semula menjual baju, juga membuka toko kopi. Toko pakaian dan toko kopinya bersisian. Tak disangka, peminatnya membludak hingga memadati jalanan dan menutupi akses ke toko di sebelahnya. Akhirnya, pedagang tersebut memfokuskan tokonya hanya menjual kopi, yang diberi merk Kopi Soe.

Christine mengatakan, sebagai pengelola, pihaknya menaruh perhatian penuh pada perkembangan properti mereka. Terutama perubahan tren belanja yang terjadi di ITC.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X