Mendag Enggar, Misi Dagang, Persempit Impor, hingga Dipanggil KPK

Kompas.com - 05/07/2019, 09:06 WIB
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (12/6/2019). KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA KEMALAMenteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Dia juga berharap komoditas beras tak lagi menjadi beban penyumbang inflasi pada 2019. Pasalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), beras menjadi komoditas kedua setelah bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi penyumbang inflasi terbesar sepanjang 2018.

Komitmennya menekan jumlah impor bahan pangan juga terlihat saat dia dan Ombudsman menolak impor bawang putih asal China. Dia menilai, stok bawang putih masih sangat cukup dan ingin mempertimbangkan nasib petani lokal.

"Jadi kita sesuai dengan menteri pertanian, saya ikuti betul. Sebab kasihan petani yang sudah menanam itu dari KPPU dan Ombudsman juga menyampaikan itu. Jadi kita ikuti (tidak mengimpor bawang)," kata Enggar.

Misi Dagang

Tahun 2019, Enggar sempat memaparkan kinerja capaian Kementrian Perdagangan soal Misi Dagang, yaitu salah satu jurus Kementerian Perdagangan untuk meningkatkan penjualan produksi dalam negeri ke negara lain.

Enggar mengklaim Indonesia berhasil meneken misi dagang dengan 13 negara di tahun 2018. Adapun total nilai transaksinya sebesar 14,73 miliar dollar AS atau Rp 209,17 triliun (kurs Rp 14.200 per dollar AS).

12 perjanjian dagang bilateral dan multilateral juga telah disusunnya bersama jajaran petahana Kemendag hingga tahun 2020. Adapun, perjanjian dagang itu antara lain IA-CEPA, RCEP, Indonesia-Korea CEPA, IJEPA, ATISA, dan perjanjian dagang dengan beberapa negara lainnya seperti Uni Eropa, Mozambik, Tunusia, Turki, juga Mesir.

Hingga saat ini, memang masih banyak negara yang tak setuju soal pertukaran data karena dianggap dapat mengganggu keamanan nasional.

Tapi berdasarkan hasil koordinasi dengan Kemkominfo, Indonesia bisa menerima tawaran tersebut. Tapi dia menjamin data-data strategis tidak akan dipertukarkan.

Kontroversi

Kasus dugaan penerimaan gratifikasi yang baru-baru ini menjerat anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso turut mencatut nama Enggartiasto Lukita pada persidangan 8 Juli mendatang. Enggar ditunjuk sebagai saksi guna menelusuri lebih lanjut sumber-sumber dugaan penerimaan gratifikasi Bowo Sidik Pangarso.

Enggar sebelumnya sempat menegaskan, tidak pernah memberi uang apapun kepada anggota DPR RI Bowo Sidik Pangarso. Dia juga keheranan namanya bisa tercatut di kasus Bowo, padahal ia berasal dari Partai Nasdem dan Bowo berasal dari Partai Golkar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X