Awal Juli, Arus Modal Asing yang Masuk ke RI Capai Rp 170 Triliun

Kompas.com - 05/07/2019, 14:48 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019). Dok. ISEIGubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing (capital inflow) yang masuk ke Indonesia hingga 4 Juli 2019 mencapai Rp 170,1 triliun.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan jumlah aliran modal asing tersebut terus meningkat setiap bulannya. Perry menjelaskan, aliran modal masuk pada awal bulan ini cukup tinggi, dan paling besar masuk melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 98,5 triliun dan saham Rp 71,5 triliun.

"Termasuk juga inflow yang cukup besar dalam dua lelang terakhir oversubscribe sangat tinggi," ujar Perry ketika ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Baca juga: Juni 2019, Modal Asing yang Masuk Indonesia Capai Rp 154 Triliun

Derasnya aliran modal asing tersebut menunjukkan kepercayaan pasar terhadap prospek perekonomian Indonesia serta berbagai kebijakan yang ditempuh oleh bank sentral, pemerintah serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perry menilai investor asing saat ini tengah memperhatikan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi nasional. 

"Sentimen yang besar memang masih dari sisi saham, kalau dari fixed income mereka melihat diferensial return-nya masih menarik karena rate-nya positif," jelas dia.

Adapun dari sisi inflasi, berdasarkan hasil survei pemantauan harga minggu pertama Juli 2019, BI memerkirakan inflasi secara bulanan month to month (mtm) sebesar 0,12 persen. Adapun inflasi secara tahunan atau year on year (yoy) sebesar 3,12 persen.

Angka tersebut cenderung lebih rendah dibanding dua bulan sebelumnya.

" Inflasi jauh lebih rendah dari inflasi dua bulan sebelumnya (Mei-Juli) karena pola musiman berkaitan ramadhan dan Idul Fitri memang tinggi," jelas Perry.

Baca juga: BI: Inflasi Juni 2019 Melambat Jadi 0,55 Persen

Beberapa komoditas terpantau mengalami penurunan harga, terutama bahan-bahan makanan seperti ayam ras, bawang merah, bawang putih.

"Bahan-bahan makanan seperti ayam ras, bawang merah, bawang putih yang bulan-bulan sebelumnya inflasi, pada bulan ini terjadi deflasi," ujar Perry.

Deflasi pun juga terpantau terjadi untuk tarif angkutan antar kota sebesar 0,08 persen.

"Inflasi kembali pada polanya dan rendah terkendali, sehingga mengonfirmasi inflasi akhir tahun insya Allah akan rendah dari titik tengah sasaran 3,5 persen," ujar dia.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X