Pasar Industri Film Masih Terkendala Jumlah Bioskop

Kompas.com - 09/07/2019, 21:32 WIB
Anggota Bekraf dan Badan Perfilman Indonesia (BPI) dalam road to Akatara Indonesia Film Bussiness and Market di Jakarta, Selasa (9/7/2019) FIKA NURUL ULYAAnggota Bekraf dan Badan Perfilman Indonesia (BPI) dalam road to Akatara Indonesia Film Bussiness and Market di Jakarta, Selasa (9/7/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan pasar industri film di Indonesia masih belum bisa disetarakan dengan industri di negara-negara lain, seperti India, Amerika, China, bahkan Malaysia. Sebab, potensi market dan produksi yang dihasilkan industri film masih belum seimbang.

CEO Visinema Angga Dwimas Sasongko mengatakan, industri film belum bisa maksimal karena minimnya layar alias bioskop di daerah-daerah. Padahal, potensi film di daerah tak kalah dengan potensi film di kota-kota besar.

"Yang menjadi kendala selama ini macam-macam. Salah satunya ketersediaan layar atau bioskop. Gimana kita bisa punya produk yang bagus di masyarakat kalau bioskopnya sedikit. Ini yang mesti kita dorong," kata Angga Dwimas Sasongko di Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Angga mengatakan, saat ini screen per kapita di Indonesia sekitar 0,4 layar per 100.000 orang. Berbanding cukup jauh dengan China di angka 1,8 layar per 100.000 orang, bahkan Amerika di angka di angka 14 layar per 100.000 orang.

"Itu di Indonesia masih kecil sekali. Di Jember populasinya berapa? 3 juta orang. Tapi bioskopnya cuma 1. Jadi mari kita support orang-orang yang ingin investasi ke industri film," kata Angga.

Di sisi lain, kata Angga, industri film di Indonesia harus menarik Industri film asal luar negeri untuk berkolaborasi di Indonesia, bukan di luar negeri.

"Ini akan membantu menambah SDM mumpuni di industri perfilman. Jadi ketika dia bikim film sendiri, filmnya jauh lebih baik," jelas Angga.

Kendati terkendala jumlah bioskop, pertumbuhan penonton di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan. Sejak 4 tahun terakhir, Angga mengaku pertumbuhan sudah berada di angka 20 hingga 25 persen yoy. Munculnya platform digital pun kian membantu bisnis film semakin berkembang.

"Kalau digital buat saya complimentary, sebagai suplai tambahan. Tapi belum jadi main, yang main tetap akan jumlah box office. Setidaknya cukup untuk membuat peluang kita lebih baik," ujarnya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X