Ini Penyebab Indonesia Tak Menikmati 'Kue' Perang Dagang

Kompas.com - 16/07/2019, 14:59 WIB
Ilustrasi perang dagang AS-China. SHUTTERSTOCKIlustrasi perang dagang AS-China.

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk beberapa negara, perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China justru memberikan dampak positif.

Vietnam misalnya, sejak perang dagang membuat produk impor dari China dikenai tarif, banyak produsen asal China yang memindahkan pusat produksinya ke negara kaawasan Asia Tenggara tersebut.

Sayangnya, hal serupa tak terjadi di Indonesia. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P Ruslani mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan Indonesia tak menikmati 'kue' perang dagang sebanyak negara kawasan Asia Tenggara lainnya kepastian hukum dan pertanahan Indonesia yang tidak lebih baik.

"Beberapa pemberitaan menunjukkan kita tidak menikmati kue dari perang dagang ini seperti Vietnam. Padahal EoDB (ease of doing business/kemudahan berusaha) kita membaik," ujar Rosan di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

"Tapi mungkin kepastian di Vietnam lebih jelas baik dari sisi hukum dan tanah," lanjut dia.

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Dampak Perang Dagang ke Indonesia Moderat, Mengapa?

Adapun beberapa isu yang patut diperbaiki Indonesia untuk memerbaiki tingkat EoDB Indonesia mengenai penegakan kontrak dan perizinan konstruksi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Peringkat EoDB versi Bank Dunia menunjukkan, indikator penegakan kontrak Indonesia turun dari peringkat 145 ke 146, perizinan konstruksi dari 108 ke 112, perlindungan investor minoritas dari 43 ke 51, hingga perdagangan lintas batas dari 112 ke 116.

"EoDB kita isunya adalah enforcing dan issuing contract itu isu yang paling berat," ujar Rosan.

Dia menegaskan, untuk bisa menanamkan modal atau berinvestasi di sebuah negara, dunia usaha memerlukan kepastian.

Baca juga: Inilah 4 Negara yang Paling Diuntungkan Perang Dagang China-AS

Rosan mengatakan, meski kebijakan perekonomian telah mengarah ke arah yang lebih baik, namun masih perlu untuk terus digenjot.

"Kita suka semuanya pasti dan terukur dan itu yang masih agak kurang dr kita. Kebijakan-kebijakan fiskal terkoordinasi dengan baik. Ekonomi kita sudah going in the right direction tapi mungkin kecepatannya yang harus ditambah," tukas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.