Pasar Saham Indonesia Diprediksi Menguat, Ini Alasannya

Kompas.com - 23/07/2019, 10:14 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar saham Indonesia diprediksi kembali berpeluang menguat di semester II 2019. Hal ini seiring dengan meredanya hiruk pikuk politik dan pemilihan umum. Selain itu para pelaku pasar mendapat kepastian Presiden terpilih Joko Widodo kembali memimpin Indonesia untuk kedua kalinya.

Menurut Kepala Ekonom dan Makro Ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Budi Hikmat, ada beberapa faktor yang bisa mendongkrak kenaikan pasar saham di semester II ini.

Pertama, sentimen positif dari Bank Sentral Amerika Federal Reserve (The Fed) yang memberi sinyal kuat untuk menurunkan suku bunga pada akhir Juli 2019.

"Dari segi valuasi, bursa saham Indonesia masih lebih murah dibandingkan bursa saham beberapa negara di Asia, sehingga memikat investor asing untuk kembali berinvestasi di Indonesia," kata Budi Hikmat dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (23/7/2019).

Baca juga: Ini Saham-saham yang Diuntungkan Penurunan Suku Bunga Acuan BI

Di samping itu kata Budi, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga BI 7 days reverse repo sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen yang semula 6 persen.

"Penurunan ini membuat suku bunga deposito cenderung turun, diantisipasi dengan bunga obligasi," ucap Budi.

Meski pasar saham berpeluang menguat, faktor pendapatan perusahaan masih belum memberi hasil maksimal karena daya beli masyarakat belum membaik. Budi memperkirakan, pendapatan korporasi pada tahun ini akan berkisar antara 8-10 persen.

Adapun, sektor-sektor yang menarik untuk dicermati dengan kondisi membaiknya pasar saham adalah sektor perbankan, konsumen, dan properti.

"Sementara, sektor yang harus diwaspadai adalah sektor komoditas, baik itu batubara, minyak sawit (CPO) sebagai dampak dari pelambatan ekonomi yang terjadi di China," jelas Budi.

Baca juga: Menengok Saham Bank Mandiri Usai Heboh Saldo Nasabah Error

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X