Start-Up Gemar Bakar Duit, Sehatkah Untuk Keberlanjutan Perusahaan?

Kompas.com - 23/07/2019, 13:42 WIB
Menteri Perdagangan era Susilo Bambang Yudhoyono, Mari Elka Pangestu, menjadi pembicara seminar Feeding The Zone: International Cooperation, Innovation, Investment in Indo-Pacific Agriculture di Jakarta, Sabtu (14/5/2016). Estu Suryowati/KOMPAS.comMenteri Perdagangan era Susilo Bambang Yudhoyono, Mari Elka Pangestu, menjadi pembicara seminar Feeding The Zone: International Cooperation, Innovation, Investment in Indo-Pacific Agriculture di Jakarta, Sabtu (14/5/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan rintisan (start up) kerap melakukan aksi bakar uang (burning money) untuk menarik minat konsumen.

Misalnya saja, duo start up penyedia jasa transportasi on demand yang beroperasi di Indonesia, Go-Jek dan Grab kerap memberikan promo baik berupa diskon maupun cashback untuk meningkatkan jumlah pengguna.

Lalu, sehatkah hal tersebut untuk keberlanjutan perusahaan?

Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu menilai, fenomena bakar duit pada dasarnya hal yang lumrah terjadi di era digital ekonomi.

Dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna, perusahaan rintisan akan memiliki data pengguna yang lebih besar untuk bisa meningkatkan layanannya.

"They use money to burn to scale up the platform. The more user you have, the more data you have, the more user use the platform, akan semakin beragam layanan yanh bisa diberikan," ujar Marie ketika memberikan paparan di Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Baca: Pendiri Startup Mesti Hindari 4 Kesalahan Dasar Ini

Data menjadi elemen penting untuk keberlanjutan perusahaan rintisan.

Dia mencontohan, Grab dan Go-Jek yang awalnya hanyalah sebuah platform penyedia jasa transportasi, kini merambah bisnis lain mulai dari layanan pesab antar makanan, bahkan ke bisnis alat pembayaran.

Namun, ada banyak pertimbangan lain yang menurutnya dinilai oleh masyarakat sebagai konsumen atau penikmat jasa e-commerce salah satunya faktor keamanan pelayanan dari start up dan kepercayaan terhadap start up tersebut.

"Customer memang intinya melihat yang mana yang beneficial dari segi price tapi at the end of the day mereka juga akan menilai, oke meskipun beda Rp10 perak, mungkin saya akan bayar lebih mahal kalau service-nya reliable atau lebih baik servicenya, jadi bukan hanya masalah price tapi masalah rating daripada trust level ke platform itu penting," ujarnya.

"Oleh karena itu, kepercayaan terhadap platform itu juga tidak kalah penting," tegasnya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X