Suku Bunga Turun, Pilih (Reksa Dana) Saham atau Obligasi ?

Kompas.com - 25/07/2019, 09:00 WIB
Ilustrasi investasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi investasi.

KOMPAS.com - Setelah bertahan selama 8 bulan, Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diselenggarakan pada tanggal 17-18 Juli 2019 lalu mengumumkan penurunan suku bunga acuan dari 6 persen menjadi 5,75 persen.

Sehubungan dengan hal tersebut, mana yang lebih baik bagi investor? Pilih reksa dana berbasis saham atau reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi ?

Suku bunga acuan atau secara akademis dikenal dengan istilah Risk Free Rate, dimana jika mengalami penurunan, secara teori akan berdampak positif bagi obligasi dan saham.

Untuk obligasi, berlaku teori dimana jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik, sebaliknya jika suku bunga naik maka harga obligasi akan turun.

Untuk saham, suku bunga biasanya digunakan sebagai komponen untuk menghitung valuasi harga wajar. Semakin rendah Risk Free rate, maka harga wajar suatu saham akan semakin tinggi. Sebaliknya semakin tinggi Risk Free Rate, maka valuasi harga wajar suatu saham akan semakin rendah.

Jadi secara teori, bisa disimpulkan bahwa penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia berdampak positif baik bagi reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap.

Meskipun demikian, dalam praktek terkadang tidak selalu sejalan. Sebagai contoh, sejak suku bunga diumumkan turun pada tanggal 18 Juli yang lalu hingga tanggal 23 Juli 2019, IHSG nyaris tidak berubah dan Indeks Obligasi malah turun sekitar 0.22 persen.

Suku bunga acuan memang menjadi salah satu faktor, tapi bukan satu-satunya faktor. Untuk obligasi, bisa dikatakan suku bunga acuan merupakan faktor yang dominan. Sebab obligasi memiliki waktu jatuh tempo dan besaran kupon yang sudah pasti.

Baca : Transaksi Reksa Dana via Online Tembus Rp 5 Triliun

Untuk saham agak berbeda. Saham tidak memiliki waktu jatuh tempo, besaran dividennya juga bervariasi tergantung laba perusahaan dan kebijakan pemegang saham mayoritas. Di luar faktor suku bunga, harga saham juga dipengaruhi faktor lain seperti fundamental kinerja perusahaan, prospek bisnis ke depan dan sentimen dari investor lokal dan asing.

Karena dipengaruhi sentimen, terkadang yang namanya saham juga bisa salah harga. Jika sentimen terlalu positif, maka harga saham naik terlalu tinggi di atas harga wajarnya. Sebaliknya jika sentimen terlalu negatif, maka harga saham bisa turun jauh di bawah harga wajarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X