Lorem Ipsum Kompas, Lord of Broken Heart, dan Kekuatan Netizen di Era Mobilisasi

Kompas.com - 29/07/2019, 05:44 WIB
Arus lalu lintas tersendat di Jalan Margonda, Depok, Kamis (11/4/2019). KOMPAS.com/CYNTHIA LOVAArus lalu lintas tersendat di Jalan Margonda, Depok, Kamis (11/4/2019).

Satu-dua postingan, lama-lama diikuti oleh postingan netizen lainnya hingga muncul mobilisasi opini di media sosial. Mobilisasi yang bergaung menjadi sebuah gerakan besar yang isinya menolak pemasangan lagu di setiap perempatan lampu merah.

Ramainya penolakan netizen kemudian membuat Pemkot Depot berpikir ulang untuk meneruskan kebijakannya itu.

Meninggalkan Marketing Konvensional

Inilah era ekonomi baru. Era di mana model bisnis secara signifikan berubah dari model sebelumnya. Yang membuat para pelaku bisnis kadang terkaget-kaget dan bahkan kebingungan melihat perubahan radikal yang ada.

Mengutip Rhenald Kasali, inilah era Mobilisasi dan Orkestrasi (MO).

Di ranah marketing, kita bisa melihat bagaimana aksi mobilisasi mulai menggantikan model marketing konvensional sebagaimana yang selama ini dilakukan.

Jika sebelumnya konten komersial dibuat oleh korporasi maupun institusi lainnya dengan melibatkan agensi iklan dan didistribusikan lewat media konvensional, kini berganti dengan konten-konten yang dibuat oleh netizen sendiri dan didistribusikan lewat media sosial. Entah berupa review produk, meme, dan berbagai konten lain yang lebih punya proximity terhadap audience.

Berangkat dari satu-dua kali postingan yang menarik berikut tagarnya, kemudian disambar oleh netizen lain. Mereka menambahi komentar dan penilaian. Semakin lama obrolan semakin membesar dan akhirnya bisa menjadi viral dan mampu memobilisasi warnaget untuk melakukan tindakan tertentu.

Tulisan Lorem Ipsum yang berujung pada ramainya netizen membeli harian Kompas hari itu, serta riuhnya komunitas sad boys dan sad girls yang bermuara pada berkibarnya nama Didi Kempot di kalangan milenial adalah beberapa contoh bagaimana mobilisasi mampu membawa dampak positif bagi pihak tertentu. Dan itu dilakukan tanpa melalui metode marketing konvensional.

Di luar itu, ada pula mobilisasi yang memang dilakukan untuk merespons negatif atas sejumlah isu. Polanya juga sama, berawal dari konten yang dibuat oleh netizen sendiri yang kemudian menjadi viral hingga memunculkan kegeraman pada pihak tertentu. Penolakan atas rencana pemutaran lagu di lampu merah di Depok adalah contohnya.

Memang ada mobilisasi yang gagal, namun banyak punya yang berhasil. Dan semua itu terjadi karena kehadiran platform media sosial. Platform yang memungkinkan semua orang bisa membuat content sendiri, mengomentari, membagi konten yang didapat dengan menambahi sesuai selera (sharing shaping) dan sebagainya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X