Ada Brexit, Inggris Bakal Jajaki Perdagangan dengan Asia Tenggara

Kompas.com - 31/07/2019, 10:05 WIB
Hasil akhir referendum Uni Eropa (UE) di Inggris, Kamis (23/6/2016), menunjukkan, 51,9 persen pemilih menghendaki negara itu keluar dari blok UE, setelah 43 tahun bergabung. DPA/A DelvinHasil akhir referendum Uni Eropa (UE) di Inggris, Kamis (23/6/2016), menunjukkan, 51,9 persen pemilih menghendaki negara itu keluar dari blok UE, setelah 43 tahun bergabung.

LONDON, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab bakal melakukan perjalanan ke Thailand pada Rabu (31/7/2019) untuk melakukan pertemuan dengan 10 negara kawasan Asia Tenggara.

Seperti dikutip dari Reuters, Rabu (31/7/2019), hal tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mencari peluang perdagangan baru dan ikatan diplomatik yang lebih kuat menjelang keluarnya Inggris dari Uni Eropa ( Brexit).

Baca: Gara-gara Brexit, Ekonomi Inggris Kembali Terkontraksi

Raab yang baru saja ditunjuk oleh Perdana Menteri Boris Johnson pekan lalu akan menggunakan perjalanan internasional pertamanya untuk menghadiri pertemuan para menteri luar negeri ASEAN, yang meliputi Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam di Bangkok.

"Untuk waktu yang terlalu lama, fokus perdagangan kami hanya kepada Eropa. Kami perlu untuk memperluas pandangan dan meningkatkan permainan. Artinya, dengan mulai merenggut kesempatan global yang begitu besar untuk Inggris," ujar Raab dalam sebuah keterangannya.

"Kawasan ini telah bernilai 43,8 miliar dollar AS setiap tahunnya dalam perdagangan dengan Inggris, dan ada kesempatan untuk kami kembali meningkatkan perdagangan tersebut untuk keuntungan konsumen dan bisnis di Inggris," ujar dia.

Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Baru Boris Johnson, rencananya Inggris bakal terlepas dari Uni Eropa pada 31 Oktober 2019 terlepas apakah hal tersebut berdasarkan kesepakatan untuk mengukuhkan aturan mengenai perdagangan dengan kawasan tersebut.

Banyak pihak yang mengkritik keputusan Brexit lantaran dianggap bisa mengganggu pasokan barang ke Inggris lantaran negara-negara Uni Eropalah yang selama ini menjadi mitra dagang terbesar Inggris.

Adapun para pendukung Brexit telah lama berpendapat bahwa salah satu manfaat terbesar meninggalkan Uni Eropa adalah kemampuan untuk mencapai kesepakatan perdagangan bilateral baru daripada mengandalkan perjanjian tingkat Uni Eropa.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
komentar di artikel lainnya
Close Ads X