Kompas.com - 02/08/2019, 11:43 WIB
Ilustrasi perang dagang AS-China. SHUTTERSTOCKIlustrasi perang dagang AS-China.

HONG KONG, KOMPAS.com - Dua hari lalu, AS-China telah kembali melakukan pembicaraan terkait perang dagang. Namun, keduanya sepakat keputusan masih bersifat konstruktif, alias belum ada indikasi serius apakah perang dagang akan berakhir dalam waktu dekat atau tidak.

"Pembicaraan itu bersifat jujur, efisien, dan konstruktif," kata pihak Kementerian Perdagangan China, seperti dikutip dari CNN, Jumat (2/8/2019).

Selain itu, ada sedikit kemajuan dari kedua negara. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas tentang kemampuan China untuk membeli produk pertanian dari Negeri Paman Sam.

Baca juga: Perang Dagang, Penjualan iPhone Anjok 12 Persen Jadi 26 Miliar Dollar AS

Tak hanya Kemendag China, Gedung Putih juga menyebut perang dagang saat ini masih bersifat konstruktif. Pun pemerintah China berkomitmen bakal membeli produk pertanian AS.

Sayangnya, belum dijelaskan kapan atau bagaimana pembelian itu terjadi.

"Negara-negara juga membahas tentang transfer teknologi, hak kekayaan intelektual, dan layanan lainnya," kata pihak Gedung Putih.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: IMF: Perang Dagang Lebih Rugikan China Ketimbang AS

Untuk pertemuan selanjutnya, Washington akan menjadi tuan rumah pada putaran kedua pada awal September. Akan tetapi, harapan untuk sebuah terobosan baru tetap rendah.

Tidak ada pihak yang merasa penting untuk melakukan kesepakatan lebih lanjut sehingga bakal tetap bersifat konstruktif. 

"Sinyal terbaru menunjukkan tidak ada pihak yang merasakan urgensi untuk melakukan kesepakatan sehingga mereka bersedia secara cepat dan terbuka membungkuk pada posisi inti," ucap analis dari Eurasia Group.

Baca juga: Imbas Perang Dagang, Lebih dari 50 Perusahaan Asing Kabur dari China

Seorang ekonom dari ING Asia Robert Carnell sependapat. Dia tak akan mengharapkan terobosan baru pada pertemuan di September berikutnya karena tidak ada sinyal pendukung hal itu akan terjadi.

"Masalah-masalah perdagangan ini sulit untuk disimpulkan, dan tidak akan menjadi kurang sulit pada bulan September. Kami juga tidak berharap akan banyak terobosan baru," jelas Carnell.

Meski konstruktif, ekspektasi pasar sudah rendah sejak memasuki minggu ini. Pasalnya perang dagang terlihat akan kembali memanas dan kedua negara sudah bersiap melayangkan tarif baru.

Presiden AS Donald Trump pun telah mengumumkan tarif baru sebesar 10 persen untuk produk impor asal China senilai 300 miliar dollar AS. Tarif baru tersebut bakal berlaku mulai 1 September 2019.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.