Pelaku Ritel Mengklaim Rugi hingga Rp 100 Miliar akibat Pemadaman Listrik

Kompas.com - 05/08/2019, 17:20 WIB
Ilustrasi ritel William_PotterIlustrasi ritel

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) menyatakan, anggota mereka mengalami kerugian materil akibat pemadaman listrik serentak di sebagian Jawa pada Minggu (4/8/2019).

APRINDO mencatat potensi kerugian anggota akibat kejadian tersebut mencapai 90-100 miliar setiap enam jam padamnya listrik.

“Kalau kemarin saja mulai pukul 11.50 WIB hingga pukul 22.00 WIB atau jam normal operasional gerai berakhir, sementara listrik masih padam, bisa dikalikan berapa kerugian yang kami derita,” ujar Ketua Umum APRINDO Roy Mandey dalam keterangan tertulis, Senin (5/8/2019).

Roy mengatakan, semestinya PLN memberi pengumuman terlebih dahulu bahwa akan ada pemadaman listrik dalam wkatu lama. Dengan demikian, pengusaha ritel bisa lebih siap mengantisipasi agar kegiatan bisnis tetap berjalan.

Misalnya, dengan mengisi cadangan bahan bakar genset agar tahan untuk waktu tertentu.

Baca : Pengusaha Yakin Transaksi Ritel Tahun Ini Tembus Rp 240 Triliun

Dengan mati listrik yang tiba-tiba ini, banyak ritel yang kehabisan daya genset, bahkan ada pula yang tidak dibekali genset sehingga tokonya terpaksa tutup lebih awal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“PLN seyogyanya memberi pengumuman terlebih dahulu kepada pelaku usaha agar bisa mempersiapkan cara tetap memberi pelayanan maksimal kepada konsumen dan masyarakat pun tetap bisa mendapat haknya sebagai konsumen,” kata Roy.

Kenyamanan pelanggan juga terganggu karena fasilitas yang seharusnya bisa mereka dapatkan dari ritel tersebut tak bisa berfungsi dengan normal.

Layanan seperti pembayaran elektronik tak bisa berfungsi karena ketidaktersediaan listrik.

Selain itu, makanan dan minuman yang didinginkan juga menurun kualitasnya karena dibiarkan di suhu ruang terlalu lama.

Apalagi, pemadaman listrik terjadi di hari Minggu, di mana biasanya masyarakat menghabiskan waktu luangnya di gerai ritel modern atau pusat perbelanjaan bersama keluarga.

“Potensi kehilangan penjualan terlihat betul, karena masyarakat akhirnya enggan atau membatalkan keinginan berbelanja nya,” kata Roy.

Selain itu, Roy mengakui biaya operasional ikut membengkak karena beberapa gerai menggunakan genset diesel agar bisa tetap buka. Sebagai satu-satunya perusahaan yang mensuplai listrik, semestinya PLN dapat bertindak lebih cepat jika terjadi gangguan seperti yang diberitakan.

“Kami setuju bahwa seharusnya PLN mempunyai sistem mumpuni untuk mengantisipasi masalah semacam ini, ‘back-up plan’yang reaktif terhadap gangguan dan ‘contigency plan’ yang terencana,” ujar Roy.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.