Kini, Bayar Tagihan di Ayopop Bisa Gunakan LinkAja

Kompas.com - 10/08/2019, 17:31 WIB
Ilustrasi LinkAja LinkAjaIlustrasi LinkAja

JAKARTA, KOMPAS.com - Startup lokal untuk aggregator pembayaran tagihan online, Ayopop bekerja sama dengan uang elektronik nasional, LinkAja. Kerja sama ini ditujukan guna mengembangkan ekosistem digital di Indonesia.

Sebagai bagian dari kolaborasi ini, Ayopop akan membuka akses untuk 1000 tagihan/produk yang dimiliki kepada LinkAja melalui open API (Application Program Interface). Sedangkan LinkAja juga akan diintegrasikan ke aplikasi Ayopop sebagai preferred source of fund menggantikan AyoSaldo.

"Ayopop dan LinkAja memiliki ambisi yang sama untuk terus mengembangkan ekosistem digital dan memperluas Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) di Indonesia. Ini adalah DNA dari kerjasama ini,” ujar Direktur Ayopop, Chiragh dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (10/8/2019).

Baca juga: Dengan LinkAja, Bisa Bayar Tol Tanpa Kartu?

Ayopop pertama kali diluncurkan tahun 2016 sebagai aplikasi pembayaran tagihan. Saat ini Ayopop menjadi aggregator pembayaran tagihan online terbesar di Indonesia dengan 1.000 tagihan/produk yang tersedia.

"Dalam tiga tahun terakhir Ayopop telah memfasilitasi pembayaran tagihan untuk lebih dari 5 juta masyarakat Indonesia,” kata Chiragh.

Ayopop Open API yang baru saja diluncurkan merupakan sebuah inisiatif baru untuk membuka akses ke lebih dari 1000 produk/tagihan yang saat ini dimiliki kepada mitra. LinkAja adalah mitra pertama untuk Ayopop Open API.

Saat ini ada 33 mitra lainnya dalam proses signing.

"Dengan membawa motto dari Indonesia untuk Indonesia, kami berharap LinkAja dapat memberikan akses layanan keuangan yang efisien kepada seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, serta membantu meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia hingga 75 persen pada akhir tahun 2019 sesuai target pemerintah,"

"Kami pun menyambut baik kerjasama dengan Ayopop untuk memperkaya jumlah produk tagihan dan kegunaan LinkAja kepada para pengguna," tambah CEO LinkAja, Danu Wicaksana.

Sejak Bank Indonesia (BI) meluncurkan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) pada Agustus 2014, terjadi pergeseran transaksi tunai ke non-tunai yang cukup signifikan di Indonesia.

Menurut data dari Bank Indonesia tahun 2019, setidaknya terdapat Rp 56,1 triliun uang yang dipertukarkan dalam transaksi elektronik sepanjang Januari-Juni dengan frekuensi transaksi 2,26 miliar. Angka ini melonjak 171 persen pada rentang yang sama tahun lalu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X