BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Pertamina

Menerjemahkan Kondisi Pesisir Karawang Saat Ini

Kompas.com - 13/08/2019, 17:43 WIB
Konferensi Pers mengenai upaya penanganan peristiwa di anjungan YYA-1 PHE ONWJ.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Konferensi Pers mengenai upaya penanganan peristiwa di anjungan YYA-1 PHE ONWJ.
|
Editor Latief

JAKARTA, KOMPAS.com – “Sejak kejadian (12/7/2019), kami optimalkan upaya penanganan. Harapannya, dampak dari peristiwa ( tumpahan minyak atau oil spill di perairan Karawang) dapat ditekan sekecil-kecilnya,”.

Ujaran itu setidaknya diulang tiga sampai empat kali oleh Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu di hadapan wartawan selama konferensi pers yang diadakan di kantor pusat Pertamina Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Pada kesempatan itu Dharmawan menegaskan bahwa Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java ( PHE ONWJ) berkomitmen tinggi dan serius dalam upaya penanganan atas kejadian pada sumur di lepas pantai Karawang, yakni YYA-1 ONWJ.

Dharmawan menyebutkan, saat ini, upaya mereka dioptimalkan pada penanganan di offshore (laut). Dengan begitu, pihaknya yakin dapat menekan dampak pada onshore (darat).

Dharmawan tak sendiri. Hadir bersamanya, VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Meidawati, juga Incident Commander Taufik Aditiyawarman.

"Kami prihatin dengan kejadian ini. Tapi, komitmen kami untuk menyelesaikan dan melakukan penanganan secara intensif memang serius kami lakukan. Mohon doanya," ujar Dharmawan.

Sedangkan Incident Management Team yang dipimpin oleh Taufik sebagai Incident Commander, memang dibentuk khusus oleh PHE ONWJ untuk dapat menangani peristiwa itu dengan lebih cepat.

Taufik, hari itu ikut memaparkan duduk perkara dan kondisi teranyar dari pesisir Karawang.

Lewat data yang dirangkum dalam gambar grafik, angka, dan juga tabel, Taufik mencoba mengungkap bagaimana ia dan tim melakukan penanganan dalam insiden tumpahan minyak tersebut.

"Sampai dengan 8 Agustus 2019 ada lebih dari 1.600-an personel, baik di darat dan laut yang dikerahkan. Kami memakai alat-alat khusus untuk melakukan penanganan dengan cepat,” ujarnya membuka pemaparan.

Ia menjelaskan, langkah yang dilakukan oleh pihaknya untuk menghentikan tumpahan minyak adalah dengan menutup sumur YYA-1 secara permanen.

Namun begitu, perlu upaya, tenaga, dan juga waktu untuk dapat benar-benar merampungkannya.

“Kami lakukan pengeboran sumur baru, yakni Relief Well yang berjarak 1 kilometer dari sumur YYA-1,” ujar Taufik.

Hingga saat ini, Selasa (13/8/2019) pengeboran sumur Relief Well telah menembus kedalaman 1.470 meter dari target 2.765 meter.

Data terkini pengeboran sumur Relief Well untuk penanganan sumur YYA-1 PHE ONWJ.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Data terkini pengeboran sumur Relief Well untuk penanganan sumur YYA-1 PHE ONWJ.

Relief Well merupakan teknik penyumbatan sumur yang mengalami insiden (blow out) dengan melakukan pengeboran dari samping di jarak tertentu. Pemilihan lokasi pengeboran pun harus sudah melewati kajian keamanan.

Teknisnya, sumur baru dibor menyamping atau secara miring menuju lokasi lubang sumur YYA-1. Adapun pengeboran sudah dilakukan sejak Kamis (1/8/2019).

"Pengeboran dimulai dua hari lebih cepat (dari rencana)," ujar Taufik memperlihatkan data.

Melalui proses ini diharapkan dapat menghentikan gelembung gas yang terjadi di sekitar sumur YYA-1 dan menghentikan tumpahan minyak yang menyertainya.

Setelah dimatikan, kemudian diawasi sebelum dilanjutkan pada proses penutupan sumur secara permanen.

Diupayakan tidak melebar

Fokus utama lainnya adalah penanganan oil spill yang kadung tercecer di laut dan darat. Taufik menjelaskan, untuk laut, penjagaan genangan minyak dipasang berlapis-lapis.

Penanganan kebocoran atau tumpahan minyak di pesisir Karawang.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Penanganan kebocoran atau tumpahan minyak di pesisir Karawang.

"Kami jaga supaya tidak melebar. Kami pasang static oil bloom (sebagai alat lapis pertama) untuk melokalisir genangan minyak mentah," tambahnya.

Sayangnya, kata Taufik melanjutkan, tak semua genangan minyak dapat tertangkap alat yang dipasang itu.

Ombak besar di laut, bisa membuat genangan minyak loncat. Maka dari itu, mereka harus menangkapnya dengan cepat.

Alat lain yang juga dipakai untuk menangkap minyak adalah movable oil bloom. Alat ini sengaja dipakai untuk mengurangi potensi oil spill yang tidak tertangkap dan terbawa arus sampai ke pesisir pantai.

"(Saat ini) ada 600 meter movable oil bloom terpasang," kata Taufik lagi.

Selain dua alat tadi, Taufik juga menyebut senjata lain, yakni oil skimmer atau alat penyedot.

Disebutkan juga bahwa PHE ONWJ menurunkan empat oil skimmer yang mampu mengangkat minyak dengan kecepatan 250.000 liter per jam.

Selanjutnya, genangan minyak mentah tersedot itu dibawa dan dipompa pada kapal-kapal untuk penampungan sementara.

Taufik menyederhanakan pemaparannya hari itu lewat gambar-gambar. Static oil bloom yang ia maksud, misalnya, diperlihatkan olehnya.

Dilihat dari kejauhan, rupa static oil bloom mirip seperti pelampung kecil memanjang yang biasa kita lihat di kolam renang sebagai pembatas kedalaman.

Bentuknya juga memanjang seperti itu melingkari sumur YYA-1. Akan tetapi, karena di foto dalam radius yang jauh, bentuknya jadi terlihat seperti tali pembatas yang mengapung sedikit di permukaan laut.

PHE ONWJ terus berupaya menahan tumpahan minyak tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan.

Mereka mengejar, melokalisir, serta menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan. Per hari ini (13/8/2019), PHE ONWJ sudah menggelar 5.700 meter static oil boom dan mengerahkan 44 kapal untuk penanganan minyak di perairan.

Kapal-kapal itu digunakan untuk combat oil spill, penampungan sementara, patrol, dan standby firefighting.

Penanganan di darat

Selain penanganan di laut, Taufik juga memaparkan langkah apa saja yang diambil timnya untuk menangani dan meminimalisir dampak yang sampai ke darat.

pENANGANAN OIL SPILL DI SHORELINE.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI pENANGANAN OIL SPILL DI SHORELINE.

Ada oil bloom yang juga dipasang, kata dia. Selain itu, timnya juga menggelar waring—atau jaring ikan—supaya genangan minyak mentah yang terbawa arus tertahan di situ.

"Saat tumpahan minyak sudah terperangkap, waringnya tinggal kami gulung," sambungnya.

Di kawasan hutan mangrove, pihaknya juga memasang jaring. Seluruh limbah yang berhasil dikumpulkan, disebutkan olehnya, tercatat datanya dan dilaporkan harian pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk kemudian diserahkan ke pengolahan limbah B3 di Marunda.

Saat ini PHE ONWJ membuka lima5 Posko Kesehatan di Karawang dan satu1 di Kepulauan Seribu, Posko-posko itu didukung oleh enam6 dokter, 37 tenaga medis, dan ambulan sebanyak lima 5 unit.

Pemerintah Kabupaten Karawang juga membentuk Tim Kompensasi yang terdiri dari Lintas Dinas, Muspida, Muspika dan PHE ONWJ untuk penanganan kompensasi masyarakat akibat tumpahan minyak.

Tim tersebut akan melakukan beberapa hal. seperti merumuskan, dan menetapkan standar nilai kompensasi sesuai hasil verifikasi.

Masyarakat terdampak akan menyampaikan pengaduan kerugian ke posko pengaduan yag didirikan padadi setiap desa terdampak, kemudian dilakukan inventarisasi, dan kemudian diverifikasi oleh tim untuk memastikan data kerugian.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya