Rhenald Kasali Luncurkan Buku Seri Disrupsi Baru Berjudul #MO

Kompas.com - 14/08/2019, 06:31 WIB
Akademisi dan Praktisi Bisnis Rhenald Kasali dalam peluncuran buku terbarunya #MO di Bekasi, Selasa (13/8/2019). FIKA NURUL ULYAAkademisi dan Praktisi Bisnis Rhenald Kasali dalam peluncuran buku terbarunya #MO di Bekasi, Selasa (13/8/2019).

BEKASI, KOMPAS.com - Akademisi dan Guru besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali kembali meluncurkan buku terbarunya dalam seri disrupsi berjudul "Seri on Disruption #MO", Sebuah Dunia Baru yang Membuat Orang Gagal Paham".

Buku ini merupakan hasil riset terbarunya yang memetakan dengan jelas gejala mobilisasi dan orkestrasi yang belakangan marak dilakukan dengan dukungan teknologi digital untuk berbagai kepentingan, tak terkecuali bisnis.

"Buku ini seri disrupsi di mana mobilisasi dan orkestrasi sangat berperan dalam era digital. Ada 20 orang yang bantu menulis, dan saya jadi mentornya," kata Rhenald Kasali di Rumah Perubahan Jatiwarna, Bekasi, Selasa (13/8/2019).

Dia mengungkapkan, kata #MO sendiri merupakan singkatan dari "Mobilisasi" dan "Orkestrasi", yang masing-masing membawa perubahan signifikan terhadap banyak hal, mulai dari marketing, komunikasi publik, pelayanan jasa publik, leadership hingga pengelolaan ekonomi.

Perubahan dalam mobilisasi misalnya, munculnya isu melalui media sosial yang digaungkan menggunakan tagar sehingga menggiring opini publik ke dalam berbagai kepentingan.

Baca juga: Rhenald Kasali soal NET: Tak Bisa Hanya Andalkan Pendapatan Utama

Sementara orkestrasi, ditandai dengan munculnya cara-cara baru dalam value creation yang menjadi dasar ekonomi produktif. Bila dulu value creation bersifat internal dan didapat dari aset-aset tangible, saat ini beraset intangible.

"Intangible itu segala sesuatu yang melekat pada manusia, tapi enggak bisa dijaminkan, seperti keterampilan, ide, inovasi, dan sebagainya. Jadi enggak bisa lagi paham manufaktur, enggak bisa lagi konsep balance sheet akuntansi," ucap Rhenald.

Bahkan berdasarkan hasil risetnya, era mobilisasi dan digitalisasi menghantui industri yang mulai menunjukkan gejala kelenyapan bila tak segera melakukan perubahan.

"Inilah era #MO, era yang membuat banyak teori-teori bisnis jadi usang, dan berbagai model bisnis tak lagi relevan. Banyak orang yang kebingungan. Dan yang pasti, era yang membuat banyak orang gagal paham. Termasuk, di kalangan akademisi yang masih berkutat dengan  teori dan asumsi lama," pungkas Rhenald.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X