Bursa Saham AS Menguat 29 Persen Selama Pemerintahan Trump

Kompas.com - 14/08/2019, 16:15 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpidato di acara kampanye akbar Pilpres 2020 di Greenville, Carolina Utara, Rabu malam (17/7/2019).AFP / NICHOLAS KAMM Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpidato di acara kampanye akbar Pilpres 2020 di Greenville, Carolina Utara, Rabu malam (17/7/2019).

NEW YORK, KOMPAS.com - Indeks saham AS berkinerja cukup baik di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Akan tetapi, kinerja saham Negeri Paman Sam selama pemerintahan Trump tak secemerlang para pendahulunya.

Dilansir dari CNN, Rabu (14/8/2019), indeks saham S&P 500, yang merupakan kumpulan dari 500 perusahaan terbesar AS, melonjak 29 persen sejak Trump dilantik menjadi presiden pada Januari 2017. Namun, indeks S&P 500 meroket 46 persen selama periode yang sama pemerintahan Presiden Barack Obama.

Selain itu, penguatan indeks saham selama periode pemerintahan Trump juga kalah dibandingkan periode yang sama pemerintahan Presiden George HW Bush. Kala itu, indeks saham AS menguat 36 persen.

Baca juga: Bursa Saham AS rontok, Trump Kurangi Ancamannya ke China

Namun demikian, penguatan saham dengan persentase yang sama dengan Trump juga dialami pada periode pemerintahan Presiden Bill Clinton.

Pun kinerja saham pada pemerintahan Trump lebih baik ketimbang pada periode awal pemerintahan Presiden Ronald Reagan, yakni tahun 1981-1983, di mana penguatan saham mencapai 23 persen.

Adapun indeks saham anjlok selama periode pemerintahan Presiden George W Bush. Indeks S&P anjlok 26 persen, menyusul meletusnya bubble saham internet hampir setahun sebelum Bush menjabat presiden.

Perubahan persentase dihitung hingga penutupan perdagangan pada Selasa (13/8/2019) waktu setempat. Saham mengalami reli sejalan dengan kabar bahwa AS menunda penerapan sejumlah tarif impor.

Baca juga: China Balas Trump, Bursa Saham AS Jeblok

Pasar saham AS tidak hanya mengalami penguatan, tapi juga pelemahan selama Trump menjabat presiden.

Pasar saham AS mengalami tahun terburuk sejak krisis keuangan tahun 2008 pada tahun 2018 lalu. Dalam tiga bulan terakhir tahun 2018, indeks S&P ambrol 14 persen, namun kemudian kembali menguat pada tahun ini, yakni 17 persen secara year to date atau tahun kalender.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X