Efek Perang Dagang Terhadap Investasi Reksa Dana

Kompas.com - 15/08/2019, 11:40 WIB
Ilustrasi perang dagang AS dan China. SHUTTERSTOCKIlustrasi perang dagang AS dan China.

KOMPAS.com - Perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia yaitu Amerika Serikat dan China yang bermula pada awal 2018 ternyata masih berlanjut hingga pada tahun 2019 ini.

Tidak hanya saling ancam, kedua negara juga saling menetapkan tarif bea masuk untuk ekspor impor antar negara. Bagaimana efek dari perang dagang terhadap investasi reksa dana?

Perang dagang pada dasarnya adalah penetapan tarif atau bea masuk terhadap barang impor dari suatu negara. Biasanya ada 3 tujuan penetapan tarif ini yaitu untuk menghambat impor barang / jasa luar negeri, melindungi barang / jasa produksi dalam negeri, dan atau menambah pendapatan pemerintah dari pajak.

Pengenaan tarif atau bea masuk sebenarnya merupakan praktik yang lumrah dalam perdagangan internasional. Seperti bea masuk atas barang mewah, minuman beralkohol, bahan baku yang tersedia di dalam negeri dan sebagainya. Hal ini menjadikan barang dari suatu negara lebih murah dibeli di negara asalnya dibandingkan harga ketika sudah diimpor.

Menjadi permasalahan apabila suatu negara merasa keberatan atas tarif bea masuk impor yang ditetapkan negara lain terhadap produknya. Keberatan tersebut dapat direspon dalam bentuk protes, mediasi di pengadilan arbitrase internasional, atau bahkan pembalasan dalam bentuk pengenaan bea masuk kembali.

Efek Samping

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia, perang dagang antara AS dan China tidak hanya berdampak terhadap ekonomi pada kedua negara itu saja tapi juga menimbulkan efek samping bagi negara lain.

Baca juga: Perang Dagang, Ekonomi Singapura Dikhawatirkan Bakal Alami Resesi

Sebagai contoh turunnya permintaan dan harga komoditas seperti batu bara karena China merupakan importir dan konsumen terbesar di dunia. Bagi Indonesia, batu bara merupakan salah satu komoditas andalan ekspor sehingga membuat defisit neraca perdagangan meningkat.

Singapura sebagai negara yang sangat mengandalkan perdagangan, pada tahun ini memprediksikan pertumbuhan ekonomi mendekati 0 persen akibat perang dagang ini.

Perang dagang juga dapat meningkat menjadi perang mata uang. Dimana dalam rangka menjaga daya saing produk ekspornya, nilai tukar mata uang negara tersebut mengalami pelemahan. Entah disengaja atau tidak, ketika nilai tukar Renmimbi (RMB) China melemah dari sekitar level 6 koma-an menjadi 7 per 1 dollar AS, Amerika Serikat menuduh China sebagai manipulator mata uang.

Tidak semua efek samping perang dagang bersifat negatif. Ada juga negara yang diuntungkan karena perusahaan di China memindahkan basis produksinya ke negara lain yang tidak dikenakan bea masuk seperti Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kemenparekraf Perkirakan Jumlah Wisatawan Tahun Ini Maksimal 4 Juta Orang

Kemenparekraf Perkirakan Jumlah Wisatawan Tahun Ini Maksimal 4 Juta Orang

Whats New
Aturan Resmi Terbit, Gaji Ke-13 PNS Segera Cair

Aturan Resmi Terbit, Gaji Ke-13 PNS Segera Cair

Whats New
Rencana Penggabungan BUMN Penerbangan dan Pariwisata Dinilai Akan Merugikan Maskapai

Rencana Penggabungan BUMN Penerbangan dan Pariwisata Dinilai Akan Merugikan Maskapai

Whats New
7 Istilah Pasar Saham Paling Dasar yang Perlu Diketahui (3)

7 Istilah Pasar Saham Paling Dasar yang Perlu Diketahui (3)

Spend Smart
Pemerintah Targetkan Bisa Vaksinasi Covid-19 ke 40 Juta Penduduk di Awal 2021

Pemerintah Targetkan Bisa Vaksinasi Covid-19 ke 40 Juta Penduduk di Awal 2021

Whats New
Ada Pandemi Covid-19,  JD.ID Catat Kenaikan Transaksi hampir 50 Persen

Ada Pandemi Covid-19, JD.ID Catat Kenaikan Transaksi hampir 50 Persen

Whats New
Tangkal Kampanye Negatif Sawit, Pemerintah Akan Bentuk Tim Khusus

Tangkal Kampanye Negatif Sawit, Pemerintah Akan Bentuk Tim Khusus

Whats New
Sejak Kampanye Bangga Buatan Indonesia Digulirkan, 1,1 Juta UMKM Sudah Go Digital

Sejak Kampanye Bangga Buatan Indonesia Digulirkan, 1,1 Juta UMKM Sudah Go Digital

Whats New
Janji Pemerintah: 2,1 Juta Korban PHK Diprioritaskan Jadi Peserta Kartu Prakerja

Janji Pemerintah: 2,1 Juta Korban PHK Diprioritaskan Jadi Peserta Kartu Prakerja

Work Smart
Jokowi Pertanyakan RI Punya 30 Bandara Internasional, Ini Respons Kemenhub

Jokowi Pertanyakan RI Punya 30 Bandara Internasional, Ini Respons Kemenhub

Whats New
Disinggung Jokowi, Ini Kerugian Banyaknya Bandara Internasional di Indonesia

Disinggung Jokowi, Ini Kerugian Banyaknya Bandara Internasional di Indonesia

Whats New
Banyak Kasus Pencurian Data, Ini Komentar JD.ID

Banyak Kasus Pencurian Data, Ini Komentar JD.ID

Whats New
Pengusaha: Kami Ingin Industri Smelter Sinergi dengan Industri Hilir

Pengusaha: Kami Ingin Industri Smelter Sinergi dengan Industri Hilir

Whats New
Interelasi Sektor Jasa Keuangan dan Peran OJK

Interelasi Sektor Jasa Keuangan dan Peran OJK

Whats New
Kuota Peserta Program Kartu Prakerja Ditetapkan 800.000 Orang Tiap Gelombang

Kuota Peserta Program Kartu Prakerja Ditetapkan 800.000 Orang Tiap Gelombang

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X