Efek Perang Dagang Terhadap Investasi Reksa Dana

Kompas.com - 15/08/2019, 11:40 WIB
Ilustrasi perang dagang AS dan China. SHUTTERSTOCKIlustrasi perang dagang AS dan China.

Hingga saat ini belum ada kepastian bahwa kapan perang dagang ini akan mereda. Perubahan hasil perundingan dari yang sebelumnya baik bisa berubah menjadi buruk dan sebaliknya dalam hitungan minggu bahkan hari. Dan perkembangan mengenai sikap Amerika Serikat bisa dilihat dari cuitan Presiden AS di akun Twitternya.

Pasar Modal

Apakah ada efek ke pasar modal? Secara langsung tidak. Sebab dana asing yang masuk dan keluar dari Indonesia untuk investasi saham dan obligasi yang menjadi aset dasar reksa dana tidak dikenakan tarif bea masuk atau bea keluar.

Kinerja IHSG dan Obligasi juga lebih banyak disebabkan karena hal yang sifatnya fundamental seperti kinerja laporan keuangan, suku bunga dan kondisi likuiditas global.

Sebagai contoh pada tahun 2018, yang menjadi tahun dimana perang dagang dimulai, IHSG mengalami penurunan 2,54 persen dan rata-rata reksa dana pendapatan tetap berbasis obligasi turun 2,2 persen. Apakah ini karena murni perang dagang?

Baca: Perang Dagang AS-China Kian Panas, Ini Saran untuk Investor

Rasa-rasanya tidak. Penyebab utama dari kinerja investasi yang kurang baik pada tahun 2018 disebabkan karena kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang mulai melakukan pengetatan likuiditas dengan mengurangi pinjaman, kenaikan suku bunga acuan (The Fed) yang kemudian diikuti dengan kenaikan suku bunga acuan BI Rate di Indonesia.

Kemudian dari awal tahun sampai dengan 13 Agustus 2019 di mana perang dagang masih berlanjut, IHSG sempat naik mendekati level 6600an dan kemudian turun ke 6210 dengan kenaikan baru 0,27 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di sisi lain, rata-rata reksa dana pendapatan tetap mengalami kenaikan 6 persen sejak awal tahun.

Tahun 2019 dan juga 2020 diperkirakan akan menjadi tahun dimana kinerja IHSG dan reksa dana pendapatan tetap memberikan kinerja positif kembali. Bukan karena perang dagang akan berakhir, tapi lebih karena bank sentral dunia yang mulai melakukan perubahan kebijakan dari yang sebelumnya melakukan pengetatan likuiditas menjadi pelonggaran likuiditas.

Di Indonesia, hal ini terlihat dari berbagai kebijakan seperti pelonggaran kebijakan DP Rumah, percepatan penyaluran kredit KPR ke developer properti, menurunnya rasio Giro Wajib Minimum (GWM), dan diturunkannya suku bunga BI Rate pada pertengahan tahun 2019 dan diprediksi akan mengalami beberapa kali penurunan lagi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X