Utang Luar Negeri RI Naik 10,1 Persen

Kompas.com - 15/08/2019, 12:28 WIB
ilustrasi rupiah thikstockphotosilustrasi rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia ( BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir kuartal II 2019 sebesar 391,8 miliar dollar AS atau sekitara Rp 5.485,2 triliun (kurs Rp 14.000 per dollar AS).

Angka tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 195,5 miliar dollar AS, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar 196,3 miliar dollar AS.

ULN Indonesia tersebut tumbuh 10,1 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 8,1 persen (yoy).

Ini terutama dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dollar AS.

Baca juga: Akhir Mei 2019, Utang Luar Negeri Indonesia Naik 7,4 Persen

"Peningkatan pertumbuhan ULN terutama didorong oleh ULN pemerintah, di tengah perlambatan ULN swasta," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/8/2019).

Pertumbuhan ULN pemerintah yang meningkat sejalan dengan persepsi positif investor asing terhadap kondisi perekonomian Indonesia

Posisi ULN pemerintah pada akhir kuartal II 2019 tercatat sebesar 192,5 miliar dollar AS atau tumbuh 9,1 persen (yoy).

Angka ini meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 3,6 persen (yoy).

Baca juga: BI: Utang Luar Negeri Jadi Sumber Pembiayaan Terbesar Kedua Ekonomi RI

BI menilai, kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia yang semakin meningkat, seiring dengan kenaikan peringkat utang Indonesia oleh Standard & Poor’s pada akhir Mei 2019, mendorong pembelian neto Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan global oleh nonresiden pada kuartal II 2019.

Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan.

Adapun porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (18,9 persen dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,4 persen), sektor jasa pendidikan (15,9 persen), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,2 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (14 persen).

ULN swasta tumbuh melambat. Posisi ULN swasta pada akhir kuartal II 2019 tumbuh 11,4 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 13,3 persen (yoy).

Baca juga: April 2019, Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi Rp 5.528 Triliun

"Perlambatan ULN swasta terutama disebabkan oleh meningkatnya pembayaran pinjaman oleh korporasi. Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian," jelas Onny.

Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9 persen.

Struktur ULN Indonesia tetap sehat. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal II 2019 sebesar 36,8 persen, membaik dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya.

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 87,0 persen dari total ULN.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X