BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Pertamina

PHE ONWJ Buka-bukaan Soal Strategi Penanganan Berlapis di Perairan Karawang

Kompas.com - 16/08/2019, 16:39 WIB
SVP HSSE Korporat Pertamina Lelin Eprianto (Kedua Kiri) Bersama dengan Dirpolairud Korpolairud Baharkam Polri Brigjen Pol Lotharia Latif (Kiri) saat melakukan Peninjauan di Salah satu Pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta pada Kamis (15/8/2019). Dok Humas PertaminaSVP HSSE Korporat Pertamina Lelin Eprianto (Kedua Kiri) Bersama dengan Dirpolairud Korpolairud Baharkam Polri Brigjen Pol Lotharia Latif (Kiri) saat melakukan Peninjauan di Salah satu Pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta pada Kamis (15/8/2019).
|

PULAU SERIBU, KOMPAS.com - Tak sekali, pihak Pertamina Hulu Energy Offshore Nort West Java ( PHE ONWJ) mengutarakan bahwa pengamanan yang mereka lakukan pada laut (offshore) berlapis agar penanganan pada darat (onshore) dapat diminamilisir. Apa maksudnya?

Kompas.com berkesempatan menyusuri perairan Karawang untuk ikut tim Health Safety Security Environment (HSSE) Pertamina yang melakukan pemantauan di wilayan perairan Kepulauan Seribu bersama dengan Polisi Air dan Udara (Polairud).

Perjalanan dilakukan dari Dermaga Tanjung Priok pada Kamis (15/8/2019).

“Jadi inilah rutinitas kami untuk mengupayakan pembersihan ceceran minyak di laut,” buka Senior Vice President HSSE Korporat Pertamina Lelin Eprianto di sela-sela perjalanan, Kamis.

Ia menjelaskan setiap harinya maksimal pada pukul 10.00 pagi, tim di lapangan akan memantau titik genangan minyak dengan alat khusus untuk memudahkan strategi penanganan.

“Nanti ketahuan, ada berapa titik, tepatnya di koordinat berapa lalu tepatnya pakai alat apa. Dari titik itu, kami (tim) tahu bagaimana cara yang tepat menangkap genangannya. Biasanya genangan mengikuti arah angin, nanti kami hadang itu (genangan) lalu disedot,” sambungnya.

Adapun upaya pembersihan intens, kata Lelin lagi, dilakukan sesuai dengan batas zona. Saat ini wilayah terdampak dibagi dalam dua zona.

“Zona satu adalah lokasi yang paling dekat dengan sumur YYA-1 di Kabupaten Karawang. Sedangkan zona dua adalah perairan yang lebih jauh, seperti di Kepulauan Seribu ini,” ujarnya.

Pembentukan dua zona inilah yang dimaksud pengamanan berlapis itu.

Pantauan Kompas.com hari itu sampai zona dua, tak ada ceceran minyak yang terlihat. Warna lautnya biru, bau-bau limbah minyak pun tak ada.

“Itu berarti hari ini penanganan pada zona satu sudah baik sehingga tak ada ceceran yang sampai di zona dua,” terang Lelin.

Berbicara mengenai kendala yang kerap ditemui, Lelin bilang ada pada cuaca dan ombak.

“Kalau ombak tinggi, tumpahan (minyak) dari zona satu tak tertangkap alat yang sudah kami pasang karena bisa loncat,” tambahnya.

Saat ini, PHE ONWJ sudah memasang dan mengoperasikan static oil bloom pada zona satu sepanjang 4.450 meter ditambah 600 meter moveable oil bloom pada area anjungan YYA-1.

Tim HSSE Pertamina beserta Tim Polairud memangau Perairan Kepulauan Seribu dengan Kapal Kapodang, Kamis (15/8/2019).KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Tim HSSE Pertamina beserta Tim Polairud memangau Perairan Kepulauan Seribu dengan Kapal Kapodang, Kamis (15/8/2019).

Static oil bloom yang terpasang di zona dua sepanjang 400 meter. Lalu, ada 400 meter oil bloom juga terpasang di sekitar area FSRU Nusantara Regas

Jika ditotal, sudah ada 5.850 meter oil boom terpasang di offshore dan 3.660 meter oil boom di onshore.

Upaya lain untuk menahan laju tumpahan minyak meluas, PHE ONWJ mengoperasikan 3 unit skimmer ditambah satu slurry pump yang telah tiba di lokasi dan telah digunakan.

Hampir sama dengan skimmer, slurry pump digunakan untuk memaksimalkan penyedotan minyak yang kemudian ditempatkan di IBC Tank.

Penanganan dilakukan dengan mengerahkan 48 kapal, dan 2689 personel.

Ada simulasi tiap tahun

Mengenai penanganan sumur YYA-1 sampai tumpahan minyak di laut yang menjadi dampaknya, Lelin menerangkan, bahwa timnya punya keahlian dan pengalaman untuk melakukan penanganan.

Pasalnya, tiap tahun mereka menggelar simulasi untuk mengantisipasi hal seperti itu.

“Macam-macam simulasinya. Misal mulai dari kebocoran yang diakibatkan gempa, tsunami, sampai jika ada pencurian, misalnya. Simulasi dimaksudkan agar sewaktu-waktu ada hal yang tak diinginkan, kami sudah bisa menanganinya,” imbuhnya.

Meskipun simulasi, biasanya, keadaan dibuat seperti sebenar-benarnya.

“Bahkan dibuat lebih berat supaya kami punya pengalaman langsung. Dengan ini kami jadi lebih tahu bagaimana menghandle,” ujarnya.

Dukungan polisi

Disebutkan juga oleh Lelin bahwa penanganan genangan minyak yang berasal dari sumur YYA-1 tak terlepas dari dukungan penuh Polairud.

Adapun dukungan dilakukan pada zona dua.

“Selama beberapa pekan terakhir, kami menyiapkan tim terpadu yang siap membantu Pertamina secara kontinyu. Bentuk bantuannya berupa alat transportasi. Kami juga melakukan pemantauan dari laut dan udara,” ujar Direktur Polair Korpolairud Baharkan Polri Brigjen Pol Lotharia Latif pada kesempatan sama.

Petugas Ditpolair bersama dengan Pertamina melakukan pemantauan di sekitar kepulauan seribu di Pesisir Ancol, Tanjung Priok, Jakarta pada Kamis (15/8/2019).Dok Humas Pertamina Petugas Ditpolair bersama dengan Pertamina melakukan pemantauan di sekitar kepulauan seribu di Pesisir Ancol, Tanjung Priok, Jakarta pada Kamis (15/8/2019).

Dari hasil pantauan harian, kemudian dievaluasi berkala. Latif juga menegaskan, pihaknya selalu siap dan mendukung penuh upaya Pertamina membersihkan genangan minyak.

Selain itu, mereka juga terbuka atas informasi dari masyarakat dan nelayan mengenai kondisi laut.

“Kami dukung penuh sampai tuntas agar laut kita segera bersih lagi,” tambahnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya