Pasokan Listrik Topang Perkembangan Industri Kopi

Kompas.com - 19/08/2019, 19:13 WIB
Ilustrasi By Aleksandrs Muiznieks/ShutterstockIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketersediaan pasokan listrik menjadi penopang perkembangan industri di Tanah Air, salah satunya adalah untuk industri kopi yang sedang berkembang.

Menurut Ketua Bali Collection Festival 2019 Pambudi Prasetyo, luasnya penggunaan listrik di industri kopi dimulai sejak dari kopi tersebut ditanam sampai siap diminum.

Proses penanaman kopi tidak hanya membutuhkan energi secara intensif, baik digarap dengan sistem tanam sederhana ataupun yang menggunakan mesin (mekanisasi pertanian).

"Faktanya, hampir 60 persen energi yang dipergunakan untuk menghasilkan secangkir kopi, terutama terletak pada sisi distribusi (pengangkutan), roasting (proses sangrai), dan penyeduhan (brewing) kopi," kata Pambudi dalam keterangannya, Senin (19/8/2019).

Baca juga: BUMN Ritel Dukung Industri Kopi Nusantara

Mesin roasting beroperasi pada suhu temperatur 550 derajat Fahrenheit dan setiap satu jam menghabiskan sekitar 1 juta BTU (British Thermal Unit). Dari semua proses tersebut, penyeduhan kopi yang membutuhkan daya listrik paling besar.

Menggabungkan antara panas dari energi listrik tersebut yang masuk dalam seni dan energi penyediaan kopi, termasuk berbagai mesin penyeduhnya.

Secara total energi yang dipergunakan untuk menghasilkan 100 mililiter kopi setara dengan1,94 megajoules, atau setengah KwH.

Adapun Ketua Indonesian Barista Association (IBA) Bali, Nyoman Suweca mengungkapkan, kepastian pasokan listrik di bisnis kopi sangat diperlukan. Sebab, sebagian besar peralatan untuk membuat kopi membutuhkan pasokan listrik.

Baca juga: Kopi Asal Sumedang Rambah Pasar Afrika

Di bidang usaha gerai kopi, daya listrik setiap jenis mesin berbeda-beda, bervariasi antara 1.200 watt sampai 1.300 watt.

Umumnya, setiap gerai memiliki minimal 4 jenis mesin, serta pendingin ruangan (AC) sehingga untuk menyediakan daya listrik beserta spare daya tersedia, mereka perlu menyediakan sekitar 10.000 watt.

“Investasi terbesar adalah pada harga mesin-mesin seperti coffee grinder (mesin giling kopi), mesin espresso, french press (alat penghilang ampas kopi), milksteamer, dan kulkas untuk menyimpan susu dan campuran bahan kopi lainnya (chest freezer). Sebab harga satu jenis mesin saja berada sekitar Rp 35 juta-Rp 50 juta," jelas Pambudi.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
komentar di artikel lainnya
Close Ads X