Tren Suku Bunga Rendah, Pasar Saham dan Obligasi Makin Menarik

Kompas.com - 20/08/2019, 17:48 WIB
Ilustrasi bursa ThinkstockIlustrasi bursa

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada bulan Juli lalu, Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan (BI 7 Days Reverse Repo Rate/BI7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi sebesar 5,75 persen.

Sebelumnya, selama setengah tahun terakhir, bank sentral memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran 6 persen.

BI pun diprediksi bakal kembali menurunkan suku bunganya seiring dengan tren penurunan suku bunga oleh bank sentral global.

Director and Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Ezra Nazula mengatakan, penurunan suku bunga acuan tersebut memerbaiki kinerja pasar saham dan obligasi dalam negeri. 

Baca juga: Jelang RDG, BI Bakal Kembali Turunkan Suku Bunga?

Ditambah lagi, peringkat utang Indonesia terus mengalami perbaikan secara konsisten.

"Daya tarik pasar saham dan obligasi Indonesia semakin meningkat. Penurunan suku bunga yang disertai dengan kenaikan peringkat utang Indonesia yang konsisten dalam dua tahun terakhir membuat Indonesia menjadi destinasi investasi yang menarik, khususnya di pasar obligasi," ujar Ezra di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Terakhir, Standard and Poor's (S&P) pada Mei 2019 lalu memutuskan untuk menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi BBB/stable.

Pertimbangannya adalah prospek pertumbuhanekonomi Indonesia dan dinamika keuangan yang kuat, serta didukung oleh utang pemerintah yang relatif rendah dan kondisi fiskal yang terkelola.

Langkah S&P tersebut mengikuti Fitch dan Moody's yang masing-masing juga telah meningkatkan peringkat utang Indonesia pada tahun 2017 dan 2018 lalu.

Baca juga: Luhut: S&P Bakal Naikkan Rating Layak Investasi Indonesia

Adapun di beberapa negara lain, seperti Brazil, Turki dan Meksiko justru mengalami tren penurunan peringkat utang.

Ezra mengatakan, berbagai indikator tersebut membuat Indonesia menawarkan imbal hasil yang cukup tinggi di pasar obligasi.

"Kami memperkirakan, hingga akhir 2019, yield obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun akan berada di kisaran 6,5 persen hingga 7 persen," jelas Ezra. 

Sementara di pasar saham, Chief Economist and Investment Strategist MAMI Katarina Setiawan mengatakan, salah satu faktor yang bakal mendorong perbaikan adalah penurunan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).

Baca juga: Moodys Sematkan Rating Baa2 untuk Obligasi Global Indonesia

Jika dilihat secara historis, dalam 245 hari (rata-rata jumlah hari perdagangan saham dalam setahun) setelah penurunan suku bunga The Fed pada tahun 1989, 1995, 1998, 2001, dan 2007, pasar saham Asia menunjukkan kinerja yang lebih tinggi secara rata-rata jika dibandingkan dengan pasar saham ASm (Indeks S&P 500), yaitu 19,9 persen dibanding 6,7 persen.

Dari segi sentimen domestik, berkurangnya tensi gejolak politik dan harapan akselerasi reformasi kebijakan bakal mendorong penguatan di pasar saham Indonesia.

Beberapa faktor lain yang bakal memengaruhi penguatan pasar saham Indonesia adalah pemangkasan lanjutan suku bunga BI yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, juga pembentukan kabinet baru yang solid terutama di bidang ekonomi.

"Ini dapat mempercepat reformasi kebijakan khususnya di bidang energi dan industri yang penting untuk memerbaiki neraca pembayaran," jelas Katarina.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X