Pertumbuhan Ekonomi Jadi Alasan BI Turunkan Suku Bunga Acuan

Kompas.com - 22/08/2019, 16:35 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). SHUTTERSTOCKIlustrasi Bank Indonesia (BI).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia ( BI) memutuskan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen.

Bulan lalu, BI juga telah menurunkan suku bunganya sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, salah satu alasan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan adalah untuk mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.

Sebab, pada kuartal II 2019 lalu, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,05 persen atau lebih rendah jika dibandingkan dengan kuartal I 2019 yang sebesar 5,07 persen.

Baca juga: BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,5 Persen

"Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah permintaan domestik, disamping konsumsi dan juga investasi. Kalau dilihat kuartal II-2019 untuk investasi tumbuh 5 persen dengan masing-masing investasi bangunan dan non bangunan tumbuh 5,46 persen dan 3,7 persen," ujar Perry ketika memberikan paparan hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Kamis (22/8/2019).

"Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan kita perlu mendorong permintaan domestik, menjaga konsumsi dan juga investasi," imbuhnya.

Perry menjelaskan, dari segi permintaan domestik, pertumbuhan fiskalnya bakal didorong dengan stimulus fiskal dan bantuan sosial.

Sementara penurunan suku bunga dibutuhkan untuk mendorong permintaan pembiayaan baik di sisi korporasi dan rumah tangga. 

Pasalnya, penurunan suku bunga bakal membuat biaya korporasi untuk berinvestasi di dalam negeri menjadi lebih rendah. 

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Penurunan Suku Bunga BI Bisa Berlanjut

"Permintaan investasi yang meningkat akan mendorong pertumbuhan ekonomi darisisi investasi dan pembiayaan, baik dari perbankan maupun non perbankan seperti pasar modal dalam negeri. Menurunkan suku bunga dua kali itu untuk mendorong permintaan," jelas Perry.

Meskipun demikian, BI bakal terus mempertimbangkan baruran kebijakan moneter, makroprudensial, pendalaman pasar kuangan dan sistem pembayaran yang akomodatif untuk mendukung pembiayaan kredit baik rumah tangga dan korporasi, juga pembiayaan ramah lingkungan.

"Sejak Desember lalu sudah terus mendorong likuiditas. Maka perbankan bisa salurkan kredit. Kita turunkan GWM (giro wajib minimum) 50 bps, akan dorong pasokan atau penawaran pembiayaan dari kredit perbankan, ini terus dilakukan," jelas dia.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lelang Mobil Murah Sitaan Bea Cukai, Honda Jazz Mulai Rp 38,7 Juta

Lelang Mobil Murah Sitaan Bea Cukai, Honda Jazz Mulai Rp 38,7 Juta

Spend Smart
Erick Thohir Akui Ada Orang Titipan di Petinggi BUMN

Erick Thohir Akui Ada Orang Titipan di Petinggi BUMN

Whats New
Ini Kriteria Karyawan yang Akan Dapat Rp 600.000 Per Bulan dari Pemerintah

Ini Kriteria Karyawan yang Akan Dapat Rp 600.000 Per Bulan dari Pemerintah

Whats New
Pemerintah Pastikan Insentif Rp 600.000 Per Bulan Masuk ke Kantong Karyawan

Pemerintah Pastikan Insentif Rp 600.000 Per Bulan Masuk ke Kantong Karyawan

Whats New
Pandemi Covid-19, Seberapa Aman Udara di Dalam Kabin Pesawat?

Pandemi Covid-19, Seberapa Aman Udara di Dalam Kabin Pesawat?

Whats New
Pelaku Franchise Didorong Ubah Strategi agar Bertahan di Tengah Pandemi

Pelaku Franchise Didorong Ubah Strategi agar Bertahan di Tengah Pandemi

Work Smart
Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Persen: Sekali Lagi, Tolong Kendalikan Pandeminya

Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Persen: Sekali Lagi, Tolong Kendalikan Pandeminya

Whats New
Lahan Pertanian di Siak Diserang Hama, Mentan Ajak Petani Setempat Ikut Asuransi

Lahan Pertanian di Siak Diserang Hama, Mentan Ajak Petani Setempat Ikut Asuransi

Rilis
BI: Keyakinan Konsumen Membaik pada Juli 2020

BI: Keyakinan Konsumen Membaik pada Juli 2020

Whats New
Kementerian ESDM Optimistis Bisa Lelang 5 WK Panas Bumi Tahun ini

Kementerian ESDM Optimistis Bisa Lelang 5 WK Panas Bumi Tahun ini

Whats New
'Jika Covid-19 Tidak Bisa Diatasi, Jangan Bermimpi Bisa Mengatasi Resesi...'

"Jika Covid-19 Tidak Bisa Diatasi, Jangan Bermimpi Bisa Mengatasi Resesi..."

Whats New
Ibu Rumah Tangga Bisa Mulai Nabung Saham, Ini Caranya

Ibu Rumah Tangga Bisa Mulai Nabung Saham, Ini Caranya

Spend Smart
Erick Thohir: Bantuan Rp 600.000 untuk Para Pekerja Disalurkan September 2020

Erick Thohir: Bantuan Rp 600.000 untuk Para Pekerja Disalurkan September 2020

Whats New
Makin Santer, Apa Sebetulnya Resesi Itu?

Makin Santer, Apa Sebetulnya Resesi Itu?

Whats New
Pemerintah Mau Bagi Rp 600.000 Per Bulan untuk 13 Juta Karyawan Swasta, Ini Wanti-wanti Serikat Pekerja

Pemerintah Mau Bagi Rp 600.000 Per Bulan untuk 13 Juta Karyawan Swasta, Ini Wanti-wanti Serikat Pekerja

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X