Ekonomi Global Tertekan, Investor Incar Obligasi Pemerintah hingga Emas

Kompas.com - 22/08/2019, 18:25 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019). Dok. ISEIGubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China terus meningkat.

Hal tersebut membuat volume perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi dunia kian tertekan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, berbagai perkembangan tersebut membuat pelaku pasar global menggeser penempatan dananya ke aset yang lebih aman seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Jepang, serta komoditas emas.

"Ketidakpastian pasar keuangan global juga berlanjut dan mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman seperti obligasi pemerintah AS dan Jepang, serta komoditas emas," jelas Perry di Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Baca juga: Rupiah Tertekan Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi Global

Beberapa negara pun telah merasakan dampak langsung dari konflik geopolitik dan meningkatnya tensi perang dagang tersebut. Perekonomian AS tumbuh melambat akibat menurunnya ekspor dan juga investasi nonresidensial.

Pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, China, dan India juga lebih rendah dipengaruhi penurunan kinerja sektor eksternal serta permintaan domestik. Pelemahan ekonomi global terus menekan harga komoditas, termasuk harga minyak. 

Berbagai negara pun melakukan stimulus fiskal untuk merespons dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut.

Bank sentral di dunia melakukan kebijakan moneter, termasuk bank sentral AS yang pada Juli 2019 telah menurunkan suku bunga kebijakannya. 

Baca juga: IMF Pangkas Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Global Tahun Ini dan 2020

"Dinamika ekonomi global tersebut perlu dipertimbangkan dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal," ujar Perry.

Adapun BI sendiri memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen pada Agustus ini.

Kebijakan tersebut konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran, tetap menariknya imbal hasil investasi aset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal, serta sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak perlambatan ekonomi global. 



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X