Cerita Gubernur BI, Ayah Bangkrut hingga Jadi Kenek untuk Kuliah

Kompas.com - 26/08/2019, 13:41 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ketika memberikan paparan kepada awak media di depan Masjid BI, Jumat (28/12/2018). KOMPAS.com/MUTIA FAUZIAGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ketika memberikan paparan kepada awak media di depan Masjid BI, Jumat (28/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia ( BI) Perry Warjiyo menceritakan kisah kecilnya hingga akhirnya menduduki jabatan strategis di bank sentral.

Dia menceritakan bagaimana dirinya harus berjuang untuk bisa menyelesaikan pendidikan hingga sarjana.

Bahkan saat SD dulu, orang tuanya yang sempat sukses sebagai petani tembakau harus mengalami kebangkrutan. Hingga kemudian, mereka beralih dan fokus menjadi petani sawah.

"Ayah saya itu juga pamong desa, sempat menjadi bayan yang membawahi dua desa. Kemudian saya anak keenam dari sembilan bersaudara. Enggak mungkin anaknya bisa sukses kalau jadi petani juga," ujar Perry ketika menjadi narasumber di Kadin Talks, di Menara Kadin, Jakarta, Senin (26/8/2019).

"Oleh karena itu mereka selalu berpesan, jika kamu mau sekolah, kamu harus sekolah terus, bagaimanapun akan dibiayai. Ayah dan Ibu hanya bisa mewariskan ilmu," ujar dia.

Baca juga: Apa yang Menjadi Sumber Kegelisahan Gubernur BI?

Ketika dirinya memasuki jenjang perguruan tinggi, nyaris saja Perry tak bisa duduk di bangku kuliah di almamaternya, Universitas Gadjah Mada ( UGM).

Perry mengatakan kala itu orang tuanya memiliki keterbatasan dana. 

"Orang tua enggak punya uang. Kemudian Ibu saja pinjam dana dari desa Rp 35.000, itu untuk beli formulir Rp 25.000 dan Rp 10.000 untuk ongkos dari rumah saya ke Yogyakarta. Tadinya saya mau kedokteran, tapi formulir Rp 25.000 itu enggak cukup, akhirnya saya di ekonomi," ujar dia.

Perjalannya untuk menuntaskan pendidikan sarjana pun tak mudah. Perry mengatakan, dirinya harus menempuh berbagai cara untuk bisa mendapatkan gelar sarjana. Bahkan dirinya juga sempat menjadi kenek untuk membiayai kuliah.

"Begitu saya lulus S1, saya masuk BI, kemudiah disekolahkan BI tahun 1986, lulus master tahun 1991, kemudian saya langsung PhD," ujar dia.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X