BPJS Kesehatan Tak Serta Merta Penuhi Tawaran Asuransi dari China

Kompas.com - 28/08/2019, 08:45 WIB
Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris usai mengisi kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Kamis (20/10/2016) Kontributor Malang, Andi HartikDirektur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris usai mengisi kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Kamis (20/10/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris mengatakan hingga saat ini dirinya belum bertemu dengan Ping An Insurance yang dikabarkan bersedia membantu mereka menangani masalah defisit.

Setelah bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengenai tawaran dari Ping An Insurance beberapa waktu lalu, Fahmi mengatakan dirinya bakal mempelajari tawaran perusahaan asuransi asal China tersebut. Menurut dia, BPJS Kesehatan tidak akan serta merta memenuhi tawaran Ping An.

"Sebenarnya intinya kita akan pelajari. Kita akan lihat, tidak serta merta kemudian apa yang ditawarkan itu kita langsung penuhi. Kita harus pelajari dulu," ujar dia ketika ditemui usai rapat dengan Komisi IX dan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Sebelumnya, Menko Luhut sempat menjelaskan, tawaran kerja sama oleh Ping An Insurance muncul ketika dirinya bertemu dengan salah satu pempimpinnya di salah satu acara kunjungannya ke China bulan lalu.

Walaupun demikian, Luhut mengatakan hingga saat ini belum ada satu pun kesepakatan yang terjadi antara Ping An Insurance dengan BPJS Kesehatan.

"Dari perbincangan tersebut terungkap perusahaan asuransi berbasis daring ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan telah sukses membantu efiensi bisnis mereka. Perusahaan publik ini memelopori menggunakan sistem manajemen kesehatan berbasis teknologi di 282 kota di Cina," ujar Luhut dalam keterangan tertulisnya, Minggu (25/8/2019).

"Menurut mereka, layanan ini telah dimanfaatkan lebih dari 403 juta orang. Pada pembicaraan tersebut pihak Ping An menyampaikan beberapa saran yang bisa dilakukan oleh BPJS untuk mengatasi defisitnya yang diperkirakan mencapai Rp 28,4 triliun," sambungnya.

Ia berharap perusahaan ini bersedia berbagi pengalaman mereka yang telah sukses mengelola asuransi kesehatan bagi peserta yang jumlahnya lebih banyak dari peserta BPJS.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X