Cicilan KPR Bisa Naik Tiba-tiba, Bagaimana Cara Pilih KPR yang Tepat?

Kompas.com - 29/08/2019, 06:47 WIB
Ilustrasi KPR www.shutterstock.comIlustrasi KPR

JAKARTA, KOMPAS.com - Bunga Kredit Pemilikan rumah (KPR) di beberapa bank tercatat mengalami kenaikan hingga 0,5 persen. Kenaikan tersebut terjadi di tengah tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang sudah mencapai 0,5 persen.

Adapun pihak bank dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkilah, perlu waktu setidaknya 3 hingga 6 bulan untuk penurunan suku bunga BI tertransmisikan dalam bunga kredit perbankan, termasuk KPR.

Sehingga, kenaikan suku bunga KPR dalam beberapa bulan terakhir masih sangat mungkin terjadi.

Seperti yang terjadi pada Lia, salah satu nasabah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), misalnya, dia mendapatnya pemberitahuan secara tiba-tiba oleh pihak customer service BNI Griya melalui SMS bahwa suku bunga KPRnya naik dari 13,5 persen menjadi 14 persen untuk cicilan pembayaran yang jatuh tempo mulai Agustus ini. Dirinya sudah menjadi debitur BNI Griya sejak tahun 2011.

Baca juga : Ketika BI Turunkan Suku Bunga, Sejumlah Bank Justru Naikkan Bunga KPR

Ada pula nasabah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) pun mengeluhkan hal yang sama. Dia yang sudah menjadi debitur di BTN sejak 2011 ini tak begitu ingat besaran bunga dan kenaikannya, hanya saja dalam surat yang dia terima, besaran tagihan cicilannya naik jadi Rp 3,5 juta dari yang sebelumnya hanya 3,3 juta.

Walaupun demikian, kenaikan bunga ini tak terjadi kepada seluruh nasabah.

Novita Intan yang baru menjadi debitur KPR di BTN pada 2015 mengatakan, setelah mengalami bunga flat selama setahun, dirinya baru merasakan kenaikan bunga satu kali di 2016 lalu dan hingga saat ini belum lagi mengalami kenaikan.

Direktur Konsumer BTN Budi Satria pun mengatakan, memang tidak semua nasabah bakal mengalami kenaikan bunga KPR.

"Ya tidak untuk semuanya, berlaku untuk yang non subsidi , yang sudah habis bunga promonya saja dan lain lain," ujar dia kepada Kompas.com, Rabu (28/8/2019).

Mengantisipasi Kenaikan

Tentu, nasabah pun perlu mengantisipasi kenaikan suku bunga kredit yang kerap kali pemberitahuannya dilakukan pihak bank secara tiba-tiba. Lalu bagaimana calon nasabah memilih KPR yang tepat untuk dirinya?

1. Nasabah harus antisipatif

Perencana Keuangan Ahmad Ghozali dari Zelts Consulting mengungkapkan, kenaikan jumlah cicilan bulanan seharusnya sudah diantisipasi nasabah sejak awal. Sehingga, mereka yang ingin mengajukan KPR kepada bank sudah harus mempertimbangkan besaran suku bunga kredit dan cicilannya sejak jauh-jauh hari.

Adapun bank, biasanya bakal menawarkan promo 1 hingga 2 tahun suku bunga KPR flat.

"Nasabah bisa pertimbangkan suku bunga floating dengan cap (batas atas) yang sudah ditetapkan. Jadi bisa memperkirakan jika masa promonya habis berapa cicilannya nanti," ujar dia.

2. Lebih nyaman dengan bunga flat

Beberapa bank, seperti bank syariah, bakal memberikan bunga KPR secara flat. Ahmad mengatakan, KPR dengan suku bunga flat sepanjang periode bakal membuat lebih nyaman.

"Bahkan akan lebih nyaman bagi debitur untuk memilih KPR dengan suku bunga fixed sepanjang periode," ujar dia.

3. Perhatikan pendapatan tahunan

Menurut Ahmad, kenaikan suku bunga bagi nasabah existing menjadi relevan dengan asumsi nasabah perlu keluar uang besar untuk renovasi, pindah rumah, biaya akad, bahkan pinjaman DP di awal-awal tahun.

"Maka untuk 1-2 thn pertama diberi suku bunga promo agar cicilan rendah.

Diharapkan, setelah itu tidak ada pengeluaran besar lainnya terkait rumah sehingga bisa alokasikan cicilan yang lebih tinggi," ujar dia.

Selain itu, pihak bank pun telah mengasumsikan penghasilan debitur tidak akan stagnan setiap tahunnya. Sehingga sebenanarnya, naiknya cicilan yang bisa mencapai 0,5 persen tersebut bisa disisihkan dari kenaikan pendapatan tahunan.

"Ada kenaikan (pendapatan) tiap tahunnya. Dari situlah sumber pembayaran cicilan yang meningkat," jelas dia.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Kriteria Karyawan yang Akan Dapat Rp 600.000 Per Bulan dari Pemerintah

Ini Kriteria Karyawan yang Akan Dapat Rp 600.000 Per Bulan dari Pemerintah

Whats New
Pemerintah Pastikan Insentif Rp 600.000 Per Bulan Masuk ke Kantong Karyawan

Pemerintah Pastikan Insentif Rp 600.000 Per Bulan Masuk ke Kantong Karyawan

Whats New
Pandemi Covid-19, Seberapa Aman Udara di Dalam Kabin Pesawat?

Pandemi Covid-19, Seberapa Aman Udara di Dalam Kabin Pesawat?

Whats New
Pelaku Franchise Didorong Ubah Strategi agar Bertahan di Tengah Pandemi

Pelaku Franchise Didorong Ubah Strategi agar Bertahan di Tengah Pandemi

Work Smart
Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Persen: Sekali Lagi, Tolong Kendalikan Pandeminya

Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Persen: Sekali Lagi, Tolong Kendalikan Pandeminya

Whats New
Lahan Pertanian di Siak Diserang Hama, Mentan Ajak Petani Setempat Ikut Asuransi

Lahan Pertanian di Siak Diserang Hama, Mentan Ajak Petani Setempat Ikut Asuransi

Rilis
BI: Keyakinan Konsumen Membaik pada Juli 2020

BI: Keyakinan Konsumen Membaik pada Juli 2020

Whats New
Kementerian ESDM Optimistis Bisa Lelang 5 WK Panas Bumi Tahun ini

Kementerian ESDM Optimistis Bisa Lelang 5 WK Panas Bumi Tahun ini

Whats New
'Jika Covid-19 Tidak Bisa Diatasi, Jangan Bermimpi Bisa Mengatasi Resesi...'

"Jika Covid-19 Tidak Bisa Diatasi, Jangan Bermimpi Bisa Mengatasi Resesi..."

Whats New
Ibu Rumah Tangga Bisa Mulai Nabung Saham, Ini Caranya

Ibu Rumah Tangga Bisa Mulai Nabung Saham, Ini Caranya

Spend Smart
Erick Thohir: Bantuan Rp 600.000 untuk Para Pekerja Disalurkan September 2020

Erick Thohir: Bantuan Rp 600.000 untuk Para Pekerja Disalurkan September 2020

Whats New
Makin Santer, Apa Sebetulnya Resesi Itu?

Makin Santer, Apa Sebetulnya Resesi Itu?

Whats New
Pemerintah Mau Bagi Rp 600.000 Per Bulan untuk 13 Juta Karyawan Swasta, Ini Wanti-wanti Serikat Pekerja

Pemerintah Mau Bagi Rp 600.000 Per Bulan untuk 13 Juta Karyawan Swasta, Ini Wanti-wanti Serikat Pekerja

Whats New
Melemah, Berikut Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Melemah, Berikut Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Whats New
Hadapi Ancaman Resesi,  Ini yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Hadapi Ancaman Resesi, Ini yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Earn Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X