Sri Mulyani soal Agus Marto, Cari Dirut untuk Sehatkan Bank Mandiri hingga Calon Menkeu

Kompas.com - 03/09/2019, 08:08 WIB
Peluncuran Biografi Agus Martowardojo di Jakarta, Senin (2/8/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAPeluncuran Biografi Agus Martowardojo di Jakarta, Senin (2/8/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengenang masa-masa awal pertemuannya dengan Mantan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan, persinggungan awalnya dengan Agus Marto ketika dirinya tengah mencari pimpinan Bank Mandiri yang baru saja disuntik dana talangan senilai Rp 170 triliun.

"And then hanya dalam beberapa tahun kondisinya memburuk lagi. So kita waktu itu juga sangat concern dan nama Agus-lah yang keluar. Waktu itu saya sebagai menteri Keuangan di era Pak SBY. Agus adalah orang yang tepat untuk clean up," ujar dia ketika menghadiri peluncuran buku Biografi Agus Martowardojo, Pembawa Perubahan di Jakarta, Senin (2/9/2019).

Baca juga: Agus Marto, Bankir yang Jadi Tukang Bersih-bersih Bank Bermasalah

Dalam buku biografinya itu, Agus Marto pun kerap menyebut nama Sri Mulyani. Hal ini karena dari memperbaiki Bank Mandiri ternyata membawa Agus Marto harus berhadapan dengan Sri Mulyani di urusan lainnya.

Mulai dari menjadi pengganti Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan lantaran di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut wanita yang akrab disapa Ani itu ditarik oleh Bank Dunia untuk jadi Direktur Pelaksana, hingga harus menangani kasus Bank Century bersama-sama.

"Waktu itu saya harus ke DC (2010) dan mencari siapa yang mau menggantikan Menteri Keuangan ( Menkeu), saya kira mungkin orang seperti Pak Agus tepat untuk menggantikan Menkeu. Bukan hal mudah memang ada di posisi Menkeu saat itu," kata Sri Mulyani.

Baca juga: Agus Martowardojo : Robby Djohan Teladan Industri Keuangan dan Perbankan Indonesia

Menurut cerita Sri Mulyani, pada 2008 krisis keuangan global tengah melanda dunia. Masih banyak orang yang percaya mengenai krisis yang terjadi setiap 10 tahun.

"Memang waktu itu saat saya di G20 ada peringatan cloud is coming. Kemudian Lehman Brother jatuh dan akhirnya terjadilah krisis juga di Indonesia," ujarnya.

Di Indonesia sendiri kala itu terdapat dua bank yang bermasalah, yaitu anak usaha Bank Indonesia yang ada di Belanda, Bank Indover juga Bank Century.

Sri Mulyani pun sempat bertanya-tanya mengenai Bank Century ketika dihubungi oleh Muliaman Hadad yang ketika itu menjabat  Deputi Gubernur BI. Hingga akhirnya dia mendapatkan fax resmi dari Indonesia mengenai kondisi Century.

"Tiba-tiba saya dikasih tahu kalau Century bermasalah, Century tuh opo saya tidak tahu, lalu dikirimi fax isinya satu-setengah halaman. Tulisannya Bank Century sistemik akan collapse. Saya langsung tanya siapa itu Bank Century dan pemiliknya," jelas dia.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
komentar di artikel lainnya
Close Ads X