BI Sebut Inklusi Keuangan akan Tembus 60 Persen Tahun Ini

Kompas.com - 04/09/2019, 15:46 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019). Dok. ISEIGubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia ( BI) menyebut inklusi keuangan di Indonesia akan mengalami lonjakan pada tahun ini.

Inklusi keuangan mengacu kepada jumlah masyarakat yang tersentuh layanan keuangan.

Gubenur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, saat ini inklusi keuangan di Indonesia sebesar 51 persen dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan akan bertambah tahun ini.

"Memang dulu-dulunya di bawah 40 persen dan sekarang naik 51 persen. Tahun ini bisa 60-an persen sekian," ujarnya di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Baca juga: Survei Aftech: Fintech Dorong Inklusi Keuangan

Perry mengatakan, peningkatan persentase inklusi keuangan masyakarat Indonesia didorong oleh tambahan penyaluran bantuan sosial ( bansos) dari pemerintah.

Bantuan itu yakni Program Keluarga Harapan (PKH) untuk 10 juta keluarga dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) untuk 15,6 juta keluarga.

Meski begitu, Perry menilai Indonesia masih memilih pekerjaan rumah yang besar dalam urusan peningkatan persentase inklusi keuangan.

"Tapi itu baru menyambungkan ke dunia keuangan baik melalui uang elektronik dan rekening bank. Sementara yang harus kita kembangkan usahanya," kata dia.

Baca juga: Transaksi Tunai Masih 76 Persen, BI Terus Genjot Inklusi Keuangan

Adapun cara lain dalam meningkatkan inklusi keuangan adalah dengan memanfaatkan layanan teknologi keuangan ( fintech).

Menurutnya, itu adalah salah satu peluang besar fintech masuk untuk mengembangkan jutaan UMKM tersebut dengan pemberian pinjaman.

"Itulah potensi yang akan berkembang ke depan. Masalahnya bagaimana mengembangkan inovasi keuangan ekonomi dengan kepentingan stabilitas manajemen risiko, cyber maupun maraknya investor asing untuk masuk ke Indonesia," kata Perry.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X