BI: Semester II, Aliran Dana Asing Tak Sederas Awal Tahun

Kompas.com - 06/09/2019, 20:40 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti di Jakarta, Jumat (6/9/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIADeputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti di Jakarta, Jumat (6/9/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2019 sebesar 126,4 miliar dollar AS. Jumlah tersebut naik tipis jika dibandingkan dengan posisi cadangan devisa bulan sebelumnya yang sebesar 125,9 miliar dollar AS.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, aliran dana asing yang masuk ke Indonesia pada semester II tahun ini tidak akan sederas awal tahun.

Melambatnya pertumbuhan aliran modal asing tersebut bakal berpengaruh pada pertumbuhan cadangan devisa dalam negeri.

"Kalau melihat prospek ke depan dengan kondisi global seperti sekarang, inflow kita masih bisa expect. tapi memang mungkin tidak akan sederas enam bulan pertama," ujar Destry ketika ditemui di Museum BI Jakarta, Jumat (6/9/2019).

Baca juga: Kurs Rupiah Disokong Banjir Dana Asing

Destry mengatakan, masih berlanjutnya gejolak di perekonomian global menjadi salah satu pemicu dari melambatnya aliran modal asing ke Indonesia.

Para pelaku pasar tidak pernah tahu ke mana arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve yang menjadi barometer perekonomian dunia. Selain itu, sentimen perang dagang Amerika Serikat dan China juga menjadi faktor lain yang berpengaruh terhadap gejolak perekonomian global.

"Kita mesti melihat juga volatilitas yang terjadi. Memang kemarin naiknya (cadangan devisa) juga enggak besar banget. Karena memang kita lihat sumbernya tergantung, kita sumbernya dari inflow, sementara portofolio di Agustus agak tersendat," ujar Destry.

Destry pun mengatakan begitu besarnya pengaruh kicauan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap kondisi perekonomian dunia.

"Ketidakpastian di pasar global sangat tinggi, dan yang menjadi barometer adalah Amerika Serikat, jadi AS arahnya mau ke mana. Dan di AS yang menentukan cuma satu, Trump. Jika Trump bunyi di twitter, market-nya langsung bergerak," ujar Destry.

Pada Selasa (3/9/2019) lalu, Trump berkicau melalui akun Twitternya mengenai kondisi terkini negosiasi perdagangan antara AS dengan Negeri Tirai Bambu tersebut. Baru sepekan yang lalu pasar saham global bergerak bullish lantaran investor kehilangan harapan akan adanya perbaikan hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang memanas, pekan ini, pasar saham Negara Paman Sam tersebut tiba-tiba kembali bullish.

Pasalnya, Trump melalui akun Twitternya beberapa hari yang lalu sempat memberikan harapan pada pelaku pasar, negosaisi perdagangan antara dua negara yang tengah berseteru tersebut berjalan dengan baik.

"Baru minggu lalu, orang-orang meyakini perang dagang antara Amerika Serikat dan China tidak akan menemui kesepakatan. Tapi beberapa hari kemudian Trump ngetweet ada harapan, indeks saham Dow Jones langsung melejit tinggi," jelas Destry.

Baca juga: Menelisik Aliran Masuknya Dana Asing ke Indonesia...



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X