Pemerintah Thailand Tunda Penerapan Pajak Turis, Mengapa?

Kompas.com - 09/09/2019, 20:22 WIB
Wat Pho KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRIWat Pho

BANGKOK, KOMPAS.com - Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand memutuskan untuk menunda penerapan pajak turis bagi wisatawan asing.

Dilansir dari Bangkok Post, Senin (9/9/2019), pekan lalu, Sekretaris Tetap Pariwisata Chote Trachu mengatakan, pajak turis tersebut dapat menyebabkan penolakan secara psikologis oleh turis asing. Akibatnya, sektor pariwisata Thailand yang saat ini stagnan bisa terpukul.

Adapun pada Mei 2019 lalu, Chote mengumumkan pihaknya menggelar studi untuk membuka kemungkinan menarik pajak turis dari wisatawan asing. Adapun penerimaan pajak tersebut bakal digunakan untuk merehabilitasi destinasi wisata alam.

Chote menuturkan, besaran pajak yang diterapkan bakal relatif rendah dan tak memberatkan wisatawan.

"Kami tidak ingin menerapkan pajak tersebut pada tahun ini karena dapat memperburuk (sektor) pariwisata Thailand, khususnya ketika (nilai tukar mata uang) baht sangat kuat," ujar Chote.

Baca juga: Di Thailand, Penguatan Nilai Tukar Malah Bikin Sakit Kepala

Ia optimistis kedatangan wisatawan dalam bulan-bulan terakhir tahun ini akan meningkat.

Sementara itu, Kampon Adireksombat, direktur senior riset ekonomi dan pasar finansial Economic Intelligence Center di Siam Commercial Bank menyebut, selain penguatan mata uang baht, sektor pariwisata Thailand juga akan terpukul dampak perang dagang AS-China yang berkembang menjadi perang mata uang.

China dituduh membiarkan kurs yuan anjlok ke level terendah dalam 10 tahun untuk menahan dampak penerapan tarif impor tambahan dari AS.

Situasi ini memberi dampak pula pada pariwisata dan perekonomian lokal.

Kampon menuturkan, pertumbuhan ekonomi Thailand mencapai 2,3 persen pada kuartal II 2019, terendah dalam 5 tahun.

"Rencana stimulus ekonomi yang akan digulirkan pemerintah dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 3 persen, namun (pertumbuhan ekonomi) hanya akan 2,7 persen tanpa skema (stimus) itu," jelas Kampon.

Baca juga: Pikat Perusahaan yang Terdampak Perang Dagang, Thailand Tebar Insentif

Penguatan mata uang baht menyebabkan jumlah kedatangan turis China anjlok 3,3 persen menjadi 6,6 juta orang selama periode Januari-Juli 2019.

Menurut Kampon, perubahan perilaku kunjungan turis China disebabkan faktor ekonomi. Mereka lebih memilih destinasi yang lebih dekat seperti Hong Kong dan Makau, atau negara-negara yang lebih murah biayanya seperti Kamboja.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X