Dilanda Polemik Audisi Bulu Tangkis, Intip Gurita Bisnis Grup Djarum

Kompas.com - 11/09/2019, 12:31 WIB
Djarum Sirnas, ilustrasi Djarum Sirnas, ilustrasi

Adapun Sarana Menara Nusantara yang bergerak di sektor telekomunikasi pada semester I-2019 mencatatkan penurunan laba periode berjalan sebesar 7,97 persen menjadi Rp 993,51 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Generasi Ketiga Djarum Grup dan Disrupsi Digital

Victor Rachmat Hartono, Martin Basuki Hartono dan Armand Wahyudi Hartono merupaka tiga sosok yang paling kerap disoroti.

Victor merupakan putra sulung Budi Hartono yang kini menjabat sebagai Direktur Operasi PT Djarum. Selain itu, dirinya juga menduduki posisi Presiden Direktur program taggung jawab Djarum Grup, yakni Djarum Foundation.

Sementara itu, Martin memegang bisnis sektor digital lewat perusahaan modal ventura PT GDP Venture yang fokus mendanai perusahaan rintisan alias startup

Adapun Armand saat ini menjabat Wakil Presiden Direktur BCA berdampingan dengan Jahja Setiaatmadja yang memegang peran sebagai Presiden Direktur.

Kini, Djarum Grup telah berada di bawah kendali generasi ketiga. Bisa dikatakan, generasi ketiga Djarum Grup memiliki tantagan yang berbeda dengan para pendahulunya.

Baca juga: Ini Gaya Hidup Armand Hartono, Putra Mahkota Grup Djarum

Saat ini pun, kerajaan bisnis Djarum harus bisa lincah dalam menghadapi disrupsi teknologi.

Keberadaan GDP Venture bisa jadi merupakan salah satu upaya Djarum Grup untuk bisa terus mengembangkan bisnisnya di era disrupsi digital ini.

Dari laman resminya, GDP Ventures mendanai beberapa perusahaan rintisan seperti Kaskus, Mindtalk, Blibli.com, Cumi, Garasi.id, Gojek, Infokost.id, Tiket.com, Tinkerlust, Bobotoh.id, Bolalob, Beritagar.id, IDN Media, Dailysocial.id, Endeus, Historia, Kurio, Kumparan, Kicir, Opini.id, Womantalk.com, dan perusahaan rintisan yang menawarkan jasa solusi lainnya.

Teranyar, dikutip dari CB Insight, GDP venture terlibat dalam pendanaan seri A startup fotografer profesional SweetEscape bersama dengan konsorsium.

Besaran dana segar yang disuntikkan mencapai 6 juta dollar AS per Juli 2019 lalu.

Tak hanya menunjukkan taringnya di lini bisnis digital melalui GDP Venture, lini bisnis perbankan pun tak ketinggalan dalam melakukan trasnformasi digital. Tahun ini saja, BCA telah menganggarkan hingga Rp 5,2 triliun dari belanja modal mereka untuk mengembangkan layanan digital.

Besaran belanja modal tersebu tumbuh 24 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X