Impor Produk Tekstil Bekas Marak, Apa Dampaknya Bagi Industri Lokal?

Kompas.com - 11/09/2019, 18:54 WIB
Pengunjung berburu pakaian bekas dan bermerek di Pasar Poncol Senen, Jakarta, Selasa (14/08/2018). Berbagai macam merek pakaian ternama seperti Nike, Adidas, Puma dan lain-lain dijual dengan harga Rp 20.000 - Rp 150.000. ANDREAS LUKAS ALTOBELIPengunjung berburu pakaian bekas dan bermerek di Pasar Poncol Senen, Jakarta, Selasa (14/08/2018). Berbagai macam merek pakaian ternama seperti Nike, Adidas, Puma dan lain-lain dijual dengan harga Rp 20.000 - Rp 150.000.

 

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivitas impor komoditas bekas hasil industri tekstil masih terbilang marak terjadi di Indonesia saat ini. Salah satunya adalah jenis pakaian bekas impor.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan, adanya impor bahan bekas hasil tekstil itu bisa merugikan industri dalam negeri, bahkan bisa mengancam kelangsungan atau membunuh industri ini.

" Impor tekstil bekas menurut pandangan saya itu dilarang dan kalau tersedia, kita lihat di Jakarta misalnya, itu pasti ilegal," kata Arif di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Arif mengaku heran hingga kini masih ada produk tekstil bekas dari mancanegara beredar dan perjualbelikan di Indonesia.

 

Baca juga: Pakaian Bekas Selundupan, Hambatan bagi Industri Fashion Nasional

Pasalnya, jenis produk ini sudah dilarang yang aturan dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 51/M-DAG/PER/7/2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas.

"Berarti ini ada satu kelalaian dalam melakukan penegakan hukum," ungkapnya.

Dia menilai, jenis barang impor tersebut punya risiko di sejumlah sisi, utamanya bagi kesehatan pemakai atau pembeli bekas tersebut. Karena tidak diketahui secara jelas pemakaiannya dan dari mana asalnya.

"Kerugiannya, kita tidak tahu quality kesehatan dari tekstil bekas itu kalau kemudian itu diperdagangkan dan dipakai oleh masyarakat. Kita enggak ngerti dari mana sih country origin-nya, siapa yang pakai sebelumnya, sudah berapa lama itu tidak dipakai dan seterusnya," jelasnya.

Selain sisi kesehatan, lanjut Wakil Ketua KIN ini, ada dampak yang lebih parah dan signifikan atas peredaran barang tekstil bekas hasil impor itu.

Baca juga: Mendag: Pakaian Bekas Impor Ancam Industri Kecil

Peredaran komoditi ini akan mengancam kelangsungan Industri Kecil Menengah (IKM) yang bergerak di bidang tekstil atau konveksi.

"Automatically juga akan mematikan IKM yang berbasis tekstil. Karena dengan harga yang sama orang mungkin tidak akan datang lagi misalnya paling sederhana ke penjahit,"   imbuhnya.

"IKM dan konveksi yang kecil-kecil bersaing berhadapan secara langsung dengan perdagangan tekstil yang dilakukan oleh rakyat yang selama ini sudah mapan, misal di Tanah Abang atau di pasar tradisional," tambahnya.

Meskipun demikian, Arif tidak menyebutkan seberapa tinggi aktivitas ekspor barang bekas hasil industri tekstil selama ini. Akan  tetapi ia meminta pemerintah lewat lembaga/instansi terkait untuk memperhatikan kondisi ini.

"Jadi perlu law enforcement dan itu tidak boleh dibiarkan. Jadi Bea Cukai, aparat perdagangan harus sangat serius, (ini) menyangkut hidup mati IKM kita bidang tekstil," tutupnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Spend Smart
Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Smartpreneur
AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

Rilis
Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Whats New
Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Whats New
Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Whats New
Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Whats New
IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

Rilis
Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Whats New
Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Whats New
5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

Whats New
Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Rilis
Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Whats New
5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

Earn Smart
Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X