Christine Lagarde Jadi Perempuan Pertama Pimpin Bank Sentral Eropa

Kompas.com - 13/09/2019, 07:33 WIB
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde memberikan keterangan pers terkait  Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center, Kawasan Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10). 
ANTARA FOTO/WISNU WIDIANTORODirektur Pelaksana IMF Christine Lagarde memberikan keterangan pers terkait Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center, Kawasan Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10).

WASHINGTON, KOMPAS.com - Kamis, (12/9/2019) waktu setempat merupakan hari terakhir Christine Lagarde menjadi Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional ( IMF).

Pada akhir Juli lalu, dirinya sudah mengundurkan diri lantaran ditunjuk menjadi Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB), menggantikan Mario Draghi yang telah habis masa jabatannya.

Lagarde pun berpamitan, dengan mengunggah sebuah video di akun instagram IMF dan akun instagramnya sendiri.

"Hari ini adalah hari terakhir saya sebagai Direktur Pelaksana IMF, sebuah institusi yang memiliki akal, sumber pendanaan dan juga hati," ujar Lagarde dalam uanggahan tersebut seperti dikutip oleh Kompas.com, Jumat (13/9/2019).

Baca juga: Lagarde Dikabarkan Jadi Calon Pimpinan Bank Sentral Eropa

Perempuan yang juga mantan Menteri Ekonomi, Keuangan dan Industri Perancis tersebut telah menjabat sebagai Direktur Pelaksana sejak tahun 2011 lalu. Dalam delapan taun kepemimpinannya, Lagarde berupaya untuk memperkuat komitmen IMF dalam melayani negara anggotanya yang saat ini berjumlah 189 negara.

"Hal tersebut merupakan pengalaman yang selamanya akan saya hargai," ujar dia.

Sebagai informasi, setelah lengser dari jabatannya sebagai Direktur Pelaksana IMF, Lagarde bakal segera berkantor di ECB pada 1 November 2019.

Lagarde sendiri dikenal sebagai komunikator berbakat yang memiliki rasa hormat. Keterampilannya mampu membawa dia menduduki sejumlah jabatan penting hingga dicalonkan menjadi Gubernur ECB, salah satu lembaga paling penting di dunia dan menentang ketidakstabilan di Eropa.

Uniknya, dirinya bukanlah seorang ekonom, bahkan tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang keuangan. Lagarde adalah seorang pengacara, yang sempat bekerja di firma hukum Chicago, Baker McKenzie.

Di firma hukum tersebut, Lagarde menjadi perempuan pertama yang menduduki puncak kepemimpinan.

Baca juga: Sri Mulyani Semangati Lagarde yang Jadi Calon Bos Bank Sentral Eropa

Kemudian, dia menjadi perempuan pertama yang memegang jabatan sebagai menteri keuangan negara G7. Pada 2011, dia menjadi perempuan pertama yang memimpin IMF.

Di IMF, ia mengorganisir dana talangan untuk Argentina dan Yunani.

Saat menduduki jabatannya yang sekarang, dia dipuji lantaran berhasil memimpin IMF di Washington pasca-krisis keuangan.

Karirnya selalu berada di posisi penting, menjabat Menteri Ekonomi, Keuangan dan Pekerjaan, Menteri Pertanian dan Perikanan, hingga Menteri Perdagangan Perancis. Di pemerintahan Prancis, dia menjabat selama krisis keuangan global.

Lagarde kerap dilabeli sebagai perempuan pertama dalam setiap perjalanan karirnya. Di ECB pun, dia menjadi calon pemimpin wanita pertama.

Di ECB, Lagarde punya tanggung jawab besar menyusun setiap langkah terbaik untuk Eropa. Dia dituntut memiliki insting politik yang cerdas di tingkat nasional dan tingkat internasional, serta koneksi mendalam dalam keuangan global.

Pemimpin Periode Sulit

Lagarde bakal diangkat untuk menjadi Gubernur ECB pada periode sulit. Pertumbuhan ekonomi global yang melambat telah terlihat tanda-tanda kelemahan yang sangat akut di Eropa. PDB zona euro pun dipatok pertumbuhan 1,2 persen tahun ini.

Kelemahan seperti itu dapat meningkatkan guncangan besar dalam ekonomi global. Mulai dari hubungan perdagangan global yang tak pasti hingga tingkat utang tinggi Italia yang diproyeksi stagnan di atas 130 persen dari PDB tahun ini.

Inggris pun masih belum memiliki rencana perlindungan perdagangan bila resmi keluar dari UE. Jika salah satu dari masalah ini berubah menjadi krisis, ECB bisa bermasalah.

Itulah yang membuat orang terkejut atas keputusannya untuk berani mengambil langkah sebagai wanita pertama memimpin ECB. Tapi nampaknya dia akan berhasil memimpin ECB, sebab dirinya memang telah berpengalaman memimpin periode sulit.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X