[POPULER MONEY] Jeritan RS dan Klinik soal BPJS Kesehatan | Sri Mulyani soal Ekonomi RI

Kompas.com - 14/09/2019, 07:32 WIB
Suasana pelayanan di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Utama Samarinda Jalan Wahab Syahranie, Rabu (4/9/2019). KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATONSuasana pelayanan di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Utama Samarinda Jalan Wahab Syahranie, Rabu (4/9/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Berita tentang soal jeritan rumah sakit dan klinik soal kenaikan iuran BPJS Kesehatan menjadi berita populer kanal Money Kompas.com, Jumat (13/9/2019).

Selain itu, ada pula berita tentang penjelasan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait kicauan Presiden Donald Trump yang berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.

Berikut ini adalah 5 berita populer kanal Money yang masih bisa Anda simak pagi ini.

1. Jeritan Rumah Sakit hingga Klinik untuk BPJS Kesehatan

Masalah besar sistem Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN) tidak hanya menggencet masyarakat dan BPJS Kesehatan.

Para pelaku di bidang kesehatan pun ikut menjerit. Mulai dari rumah sakit, klinik hingga tentu saja para dokter yang melayani para pasien BPJS Kesehatan.

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) misalnya, menagih tunggakan BPJS Kesehatan yang mencapai Rp 6,5 triliun kepada rumah sakit selama 2019.

Apa yang menjadi kekhawatiran klinik terkait kenaikan iuran BPJS Kesehatan? Baca di sini.

2. Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia Butuh Perlindungan dari Kicauan Trump

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Indonesia membutuhkan sistem perekonomian yang lebih kuat untuk menangkal gangguan dari eksternal, termasuk dari kicauan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di akun Twitter pribadinya yang bisa mengacaukan kondisi perekonomian global.

Mengutip Bloomberg pada Jumat (13/9/2019), Sri Mulyani mengatakan Indonesia tengah menghadapi ketidakpastian, mulai dari perang dagang antara AS dan China, Brexit, fluktuasi harga komoditas, moderasi pertumbuhan di China, geopolitik, dan perubahan iklim.

Setelah dua kali merevisi proyeksi untuk pertumbuhan ekonomi tahun ini, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan, negara perlu mempertahankan ruang fiskal untuk bermanuver. Sebab, tidak ada jaminan dunia akan terus tumbuh secara positif.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X