Ini Modal Desa Kutuh Bisa Raup Puluhan Miliar Rupiah

Kompas.com - 16/09/2019, 10:40 WIB
Desa Kutuh, Bali. KOMPAS.com/MUTIA FAUZIADesa Kutuh, Bali.

BADUNG, KOMPAS.com - Upaya penduduk Desa Kutuh, Badung, Bali untuk melepaskan diri dari Desa Ungasan terasa sia-sia di awal. Keputusan untuk lepas dan akhirnya membentuk desa sendiri akibat merasa kurang diperhatikan dan menjadi tidak terurus, membuat penduduk desa harus berjuang lebih keras untuk mengurus diri mereka sendiri.

Proses memisahkan diri dari Desa Ungasan yang dirasa terlampau luas pun tak mudah, setidaknya penduduk desa membutuhkan waktu 4 tahun hingga akhirnya benar-benar bisa memiliki otoritas desa sendiri.

Di awal memutuskan untuk mengembangkan desa secara mandiri pada 2002, penduduk Desa Kutuh bertahan hidup dengan bertani. Namun, tanah desa yang cenderung gersang lantaran berada di pinggir kawasan pantai membuat hasil tani tak begitu bisa diandalkan.

Baca juga: Punya 9 Bisnis, Desa Ini Raup Pendapatan hingga Rp 50 Miliar Per Tahun

Akhirnya mereka beralih untuk mulai serius menggarap budi daya rumput laut pada tahun 2005. Dari situ, penduduk desa sempat berhasil bahkan menyabet juara 1 nasional dalam hal pengelolaan budi daya rumput laut.

Namun sayang, kejayaan itu tak bertahan lama lantaran hama yang menyerang dan membuat kualitas rumput laut menurun.

Kepala Desa Kutuh I Wayan Purba mengatakan, dari sanalah kemudian masyarakat mulai bergeser untuk mengembangkan potensi pariwisata desa.

"Kementerian Kelautan waktu itu sering datang dengan banyak rombongan untuk memotivasi kami untuk bertahan di rumput laut. Segala bantuan diberikan tapi tetap tidak bisa tumbuh kan, maka masyarakat bergeser menjadi pedagang kecil jual jagung dan akhirnya makin lama makin lama yang datang. Lalu kita geser ke pariwisata," ujar dia.

Dualitas kepempimpinan

Yang unik dari pengelolaan Desa Kutuh adalah, pengelolaan desa tidak hanya mengandalkan pemerintahan desa saja, namun juga masyarakat adat desa yang dibawah kepemimpinan Kepala Desa Adat.

Kepala Desa Adat atau yang biasa disebut oleh penduduk setempat dengan Bende Desa I Made Wena menyebut keberadaan dua kepemimpinan dalam satu desa ini sebagai dualitas kepemimpinan.

Di mana, Bende desa bertanggung jawab langsung kepada masyarakat adat di desanya sementara Kepala Desa bertanggung jawab kepada pemerintahan yang ada di atasnya atau Camat.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X